Hukum Memberikan Rangsangan Pada Klitoris Istri Menggunakan Tangan Saat Dia Dalam Kondisi Haid atau Nifas ?
HASIL KAJIAN BM NUSANTARA
(Tanya Jawab Hukum Online)
السلام عليكم و رحمة الله وبركاته
DESKRIPSI:
Badrun (nama samaran) adalah seorang pria yang telah menikah. Ketika Badrun merasakan dorongan syahwat yang tinggi, pada saat bersamaan istrinya sedang dalam keadaan haid atau nifas. Dalam kondisi tersebut, Badrun mendekatinya, namun hanya berinteraksi pada bagian tubuh atasnya saja tanpa melakukan hubungan suami istri secara langsung. Badrun meminta istrinya membantu mencapai kepuasan melalui perantara tangannya.
Pada saat yang sama, mungkin karena adanya interaksi tersebut, istrinya juga merasakan hasrat yang meningkat. la kemudian meminta Badrun untuk memberikan rangsangan di bagian klitorisnya dengan tangan (bukan pada area dalam) agar ia juga dapat merasakan kepuasan.
PERTANYAAN:
Bagaimana hukum memberikan rangsangan pada bagian luar tubuh istri (klitoris) menggunakan tangan saat ia dalam kondisi haid atau nifas ?
JAWABAN :
Boleh menerut qoul qodim dan termasuk pendapat "mukhtar" (yang dipilih).
REFERENSI :
المجموع شرح المهذب، الجزء ٢ الصحفة ٣٦٣
أما حكم المسألة ففي مباشرة الحائض بين السرة والركبة ثلاثة أوجه، أصحها عند جمهور الأصحاب أنها حرام وهو المنصوص للشافعي رحمه الله في الأم والبويطي وأحكام القرآن
Artinya : Adapun hukum permasalahan mubasyaroh (bercumbu) dengan istri yang sedang haid diantara pusar dan lutut, maka terdapat tiga pendapat. Pendapat yang shohih dikalangan mayoritas ashab Syafi'i adalah haram, dan yang demikian itu merupakan nashnya imam Syafi'i rahimahullah didalam kitab Al-Umm, imam Al-Buwaiti, dan kitab Ahkamul Qur'an
المجموع شرح المهذب، الجزء ٢ الصحفة ٣٦٣
والوجه الثاني: أنه ليس بحرام وهو قول أبي إسحاق المروزي حكاه صاحب الحاوي عن أبي علي بن خيران، ورأيته أنا مقطوعا به في كتاب اللطيف لأبي الحسن بن خيران من أصحابنا وهو غير أبي علي بن خيران، واختاره صاحب الحاوي في كتابه الإقناع والروياني في الحلية، وهو الأقوى من حيث الدليل لحديث أنس رضي الله عنه فإنه صريح في الإباحة
Artinya : Pendapat kedua menyatakan tidak haram, dan yang demikian itu merupakan pernyataannya imam Abu Ishaq Al-Marwazi yang dihikayatkan oleh pengarang kitab Al-Hawi dari Abu Ali bin Khoiron. Dan secara pasti aku melihatnya didalam kitab Al-Latif karya Abul Hasan bin Khoiron dari kalangan ashab Syafi'i, dan beliau bukan Abu Ali bin Khoiron. Kemudian, (pendapat ini) dipilih oleh pengarang kitab Al-Hawi didalam kitabnya Al-Iqna serta imam Ar-Ruyani didalam kitabnya Al-Hilyah, dan pendapat ini lebih kuat dari segi dalil berdasarkan hadist Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu yang secara shorih (menyebutkan) kebolehannya.
المجموع شرح المهذب، الجزء ٢ الصحفة ٣٦٥
واما الاستمتاع بنفس السرة والركبة وما حاذاهما فلم أر فيه نصا لأصحابنا والمختار الجزم بجوازه لعموم قوله صلى الله عليه وسلم: اصنعوا كل شئ الا النكاح
Artinya : Adapun istimta (bersenang-senang dengan istri saat haid pada bagian) pusar dan lutut serta apa yang berada disekitarnya, maka aku tidak melihat nash para ashab Syafi'i. Dan pendapat yang dipilih adalah menyatakan kebolehannya berdasarkan keumuman sabda nabi shallallahu 'alaihi wasallam: Lakukanlah apa saja kecuali jima.
كفاية الأخيار في حل غاية الاختصار، الجزء ١ الصحفة ٧٩ — تقي الدين الحصني (ت ٨٢٩)
وَعَن عَائِشَة (أَن رَسُول الله ﷺ كَانَ يَأْمر إحدانا إِذا كَانَت حَائِضًا أَن تأتزر ويباشرها فَوق الْإِزَار) وَورد عَن مَيْمُونَة نَحوه وَالْمعْنَى فِي تَحْرِيم مَا تَحت الازار أَنه حَرِيم الْفرج وَقد قَالَ (من حام حول الْحمى يُوشك أَن يرتع فِيهِ) وَقيل إِنَّمَا يحرم الْوَطْء فِي الْفرج وَحده وَهَذَا قَول قديم للشَّافِعِيّ وحجت مَا رَوَاهُ أنس أَن الْيَهُود كَانُوا إِذا حَاضَت الْمَرْأَة فيهم لم يواكلوها وَلم يجامعوها فِي الْبيُوت فَسَأَلت الصَّحَابَة رَسُول الله ﷺ فَأنْزل الله تَعَالَى ﴿فاعتزلوا النِّسَاء فِي الْمَحِيض﴾ فَقَالَ رَسُول الله ﷺ (اصنعوا كل شَيْء إِلَّا النِّكَاح) قَالَ النَّوَوِيّ فِي شرح الْمُهَذّب وَهُوَ أقوى دَلِيلا فَهُوَ الْمُخْتَار وَكَذَا اخْتَارَهُ فِي التَّحْقِيق وَشرح التَّنْبِيه والوسيط فعلى الأول هَل يجوز الِاسْتِمْتَاع بالسرة وَالركبَة وَمَا حاذاهما قَالَ النَّوَوِيّ لم أر لِأَصْحَابِنَا فِيهِ نقلا وَالْمُخْتَار الْجَزْم بِالْجَوَازِ وَالله أعلم
Artinya : Diriwayatkan dari sayyidah Aisyah radhiyallahu 'anha bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memerintahkan salah seorang dari kami jika kami sedang haid untuk mengenakan kain penutup lalu beliau mencumbunya dibagian atas sarung kain tersebut, demikian halnya riwayat dari sayyidah Maimunah yang serupa (dengan riwayat sayyidah diatas). Dan makna diharamkan terhadap apa yang berada dibawah kain penutup adalah wilayah sekitar (harim) farji. Beliau shallallahu 'alaihi wasallam kembali bersabda: Barang siapa yang mengitari batas hima (larangan), maka hampir-hampir dia akan terjatuh/terjerumus ke dalamnya. Namun qil (dikatakan) bahwa yang diharamkan hanyalah menjima farji saja, dan yang demikian ini merupakan qoul qodimnya imam Syafi'i. Dan hujjah yang dipakai oleh beliau adalah apa yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik bahwasanya orang-orang Yahudi jika (istri-istri mereka) sedang haid, maka mereka tidak mau makan bersama istrinya dan tidak menjimanya. Maka para sahabat bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam kemudian Allah Subhanahu wa Ta'ala menurunkan ayat: Maka jauhilah perempuan-perempuan yang sedang haid. Lalu rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda : Lakukanlah apa saja kecuali jima.
(Selanjutnya), imam Nawawi didalam kitab Majmu' Syarah Muhadzdzab menyatakan bahwa yang demikian ini merupakan dalil yang paling kuat, dan pendapat ini juga merupakan pendapat yang dipilih (oleh beliau). Demikian halnya imam Nawawi memilih pendapat tersebut didalam kitab At-Tahqiq dan Syarah At-Tanbih serta kitab Al-Wasith. Atas dasar itu, untuk pendapat pertama apakah diperbolehkan istimta (bersenang-senang dengan istri yang sedang haid) pada bagian pusar dan lutut serta apa yang berada di sekitarnya? Maka imam Nawawi menyatakan: Aku tidak melihat nashnya para ashab Syafi'i mengenai hal ini, dan pendapat yang dipilih adalah pendapat yang menyatakan kebolehannya, wallahu a'lam.
روضة الطالبين، الجزء ١ الصحفة ١٣٦
اَلضَّرْبُ الثَّانِي: اَلْاِسْتِمْتَاعُ بِغَيْرِ الْجِمَاعِ وَهُوَ نَوْعَانِ: أَحَدُهُمَا اَلْاِسْتِمْتَاعُ بِمَا بَيْنَ السُّرَّةِ وَالرُّكْبَةِ وَالْأَصَحُّ اَلْمَنْصُوْصُ أَنَّهُ حَرَامٌ، وَالثَّانِي لَا يَحْرُمُ وَالثَّالِثُ إِنْ أَمِنَ عَلَى نَفْسِهِ اَلتَّعَدِّي إِلَى الْفَرْجِ لِوَرِعٍ أَوْ لِقِلَّةِ شَهْوَةٍ لَمْ يَحْرُمْ وَإِلَّا حَرُمَ وَحَكَى الْقاَضِي قَوْلًا قَدِيْمًا، اَلنَّوْعُ الثَّانِي مَا فَوْقَ السُّرَّةِ وَتَحْتَ الرُّكْبَةِ وَهُوَ جَائِزٌ أَصَابَهُ دَمُّ الْحَيْضِ أَمْ لَمْ يُصِبْهُ وَفِي وَجْهٍ شَاذٍ يَحْرُمُ الْاِسْتَمْتَاعُ بِالْمَوْضِعِ الْمُتَلَطَّخِ بِالدَّمِ
Artinya : Poin kedua yaitu menikmati selain hubungan seksual, yang terbagi menjadi dua jenis:
Jenis pertama: Menikmati bagian tubuh antara pusar dan lutut. Pendapat yang lebih kuat dan banyak dianut adalah bahwa ini haram. Jenis kedua: Tidak haram. Dalam kasus tertentu, jika seseorang dapat menjaga dirinya agar tidak melampaui batas atau terjerumus pada hal yang haram, maka ini tidak dianggap haram. Jenis ketiga: Jika seseorang dapat menjaga diri dari melakukan hal yang dilarang (misalnya, tidak terjatuh pada perbuatan yang mendekati kemaluan) karena rasa wara' (kehati-hatian agama) atau sedikitnya dorongan nafsu, maka perbuatan ini tidak haram. Namun, jika ia tidak bisa menjaga dirinya, maka perbuatan itu haram.
Al-Qodli Husain Abu Ali Muhammad bin Ahmad al-Marwazy menceritakan qoul qodim, jenis kedua: Menikmati bagian tubuh yang terletak di atas pusar dan di bawah lutut, yang dianggap halal. Ini diperbolehkan, baik bagian tubuh tersebut terkena darah haid atau tidak. Namun, terdapat pendapat syadz (nyeleneh) yang menyatakan bahwa menikmati bagian tubuh yang terkena darah haid haram.
إعانة الطالبين على حل ألفاظ فتح المعين، الجزء ١ الصحفة ٩٨
٠(قوله: في غير التضمخ به) أي التلطخ بالنجس عمدا. (قوله: أو ثوب) قال في التحفة: على تناقض فيه. اه. (قوله: فهو) أي التضمخ، والفاء للتعليل. وقوله: بلا حاجة أما معها فلا يحرم، وقد علمتها
Artinya : "Selain kondisi melumuri dirinya dengan najis", yakni melumurkan najis pada dirinya dengan sengaja. "Atau pakaian" Syekh Ibnu Hajar berkata dalam kita Al Tuhfah "dengan adanya perselisihan ulama di dalamnya". "Karena hal itu" melumurkan najis, fa' berfaedah ta'lil (sebagai alasan). "Dengan tanpa hajat" adapun jika ada hajat maka tidak haram, dan ini sudah maklum.
حاشية الجمل على شرح المنهج، الجزء ٢ الصحفة ١٣٨
ويحرم التضمخ بالنجاسة خارج الصلاة في البدن بلا حاجة وكذا الثوب كما في الروضة
Artinya : Dan haram hukumnya sengaja mengotori atau melumuri badan dengan najis diluar sholat tanpa adanya kebutuhan. Begitu juga haram sengaja mengotori pakaian dengan najis sebagaimana keterangan di kitab Ar-Roudhoh.
والله أعلم بالصواب
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته
PENANYA :
Nama : Abdullah
Alamat : Johor, Medan, Sumatra Utara
__________________________________
MUSYAWWIRIN
Anggota Grup BM Nusantara (Tanya Jawab Hukum Online)
PENASIHAT
Habib Ahmad Zaki Al-Hamid (Kota Sumenep, Madura)
PENGURUS
Ketua: Ustadz Zainullah Al-Faqih (Umbul Sari, Jember, Jawa Timur)
Wakil: Ustadz Taufik Hidayat (Pegantenan, Pamekasan, Madura)
Sekretaris: Ustadz Moh. Kholil Abdul Karim (Karas, Magetan, Jawa Timur)
Bendahara: Ustadz Supandi (Pegantenan, Pamekasan, Madura)
TIM AHLI
Kordinator Soal: Ustadz Qomaruddin (Umbul Sari, Jember, Jawa Timur), Ustadz Faisol Umar Rozi (Proppo, Pamekasan, Madura)
Deskripsi Masalah: Ustadz Faisol Umar Rozi (Proppo, Pamekasan, Madura)
Moderator: Ustadz Hosiyanto Ilyas (Jrengik, Sampang, Madura)
Perumus: Kyai Mahmulul Huda (Bangsal Sari, Jember, Jawa Timur)
Muharrir: Kyai Mahmulul Huda (Bangsal Sari, Jember, Jawa Timur)
Editor: Ustadz Taufik Hidayat (Pegantenan, Pamekasan, Madura)
Terjemah Ibarot : Gus Robbit Subhan (Balung, Jember, Jawa Timur), Ustadz Taufik Hidayat (Pegantenan, Pamekasan, Madura)
Mushohhih terjemahan : Kyai Mahmulul Huda (Bangsal Sari, Jember, Jawa Timur)
________________________________________
Keterangan:
1) Pengurus adalah orang yang bertanggung jawab atas grup ini secara umum.
2) Tim ahli adalah orang yang bertugas atas berjalannya grup ini.
3) Bagi para anggota grup yang memiliki pertanyaan diharuskan untuk menyetorkan soal kepada koordinator soal dengan via japri, yakni tidak diperkenankan -sharing- soal di grup secara langsung.
4) Setiap anggota grup boleh usul atau menjawab walaupun tidak berreferensi. Namun, keputusan tetap berdasarkan jawaban yang berreferensi.
5) Dilarang -posting- iklan/video/kalam-kalam hikmah/gambar yang tidak berkaitan dengan pertanyaan, sebab akan mengganggu berjalannya diskusi.
Komentar
Posting Komentar