Hukum Mengambil (Menarik) Benda Pusaka
HASIL KAJIAN BM NUSANTARA
(Tanya Jawab Hukum Online)
السلام عليكم و رحمة الله وبركاته
DESKRIPSI
Badrun adalah seorang yang diberikan kelebihan oleh Allah swt setelah mengalami sebuah mimpi. Dia bisa menarik benda-benda pusaka zaman dahulu setelah mengalami mimpi tersebut. Suatu ketika, Badrun pergi ke luar negeri, dia melakukan penarikan benda dari alam ghoib seperti pedang pusaka, keris dan cincin.
PERTANYAAN
Bagaimana hukum mengambil (menarik) benda pusaka sebagaimana deskripsi ?
JAWABAN :
Mengambil benda ghaib (tidak terlihat oleh kasat mata) serta memilikinya adalah boleh apabila mendapat idzin dari pemiliknya -yaitu dengan pengakuannya bahwa barang itu miliknya). Apabila tidak diketahui pemiliknya, maka barang tersebut adalah harta Karun (dafin). Yang boleh dimiliki setelah diumumkan karena dianggap seperti luqhotoh.
REFERENSI :
الفقه الإسلامي وأدلته للزحيلي، الجزء ٤ الصحفة ٢٩١١-٢٩١٢
وأما الكنز فهو ما دفنه الناس، سواء في الجاهلية أم في الإسلام. فهو نوعان: إسلامي وجاهلي ؛
فالإسلامي: ما وجد به علامة أو كتابة تدل على أنه دفن بعد ظهور الإسلام مثل كلمة الشهادة أو المصحف، أو آية قرآنية أو اسم خليفة مسلم
والجاهلي: ما وجد عليه كتابة أو علامة تدل على أنه دفن قبل الإسلام كنقش صورة صنم أو وثن، أو اسم ملك جاهلي ونحو ذلك
Artinya : Adapun Al-Kanzu (harta terpendam/harta karun) adalah sesuatu yang dipendam (dikubur) oleh seseorang, entah (dipendam/dikuburnya) itu terjadi pada masa jahiliyah atau terjadi pada masa islam. Dan Al-Kanzu (harta terpendam/harta karun) ini terbagi menjadi dua jenis, yakni Al-Kanzu islam dan Al-Kanzu jahiliyah. Al-Kanzu islam adalah sesuatu yang ditemukan dengan adanya ciri-ciri atau tulisan yang menunjukkan bahwa sesuatu itu dipendam (dikuburkan) setelah munculnya islam. Semisal (tulisan) kalimat syahadat, mushaf Al-Qur'an, (tulisan) ayat Al-Qur'an atau nama seorang kholifah muslim.Sedangkan Al-Kanzu jahiliyah adalah sesuatu yang ditemukan dengan adanya ciri-ciri atau tulisan yang menunjukkan bahwa sesuatu itu dipendam (dikuburkan) sebelum munculnya islam. Semisal ukiran gambar patung, berhala, nama seorang raja jahiliyah dan lain sebagainya.
-الى ان قال-
والكنز الإسلامي: يبقى على ملك صاحبه، فلا يملكه واجده، بل يعد كاللقطة، فيجب تعريفه والإعلان عنه. فإن وجد صاحبه سلم إليه وإلا تصدق به على الفقراء، ويحل للفقير الانتفاع به. هذا رأي الحنفية (١). وأجاز المالكية والشافعية والحنابلة (٢) تملكه والانتفاع به، ولكن إن ظهر صاحبه بعدئذ وجب ضمانه
Sampai pada pernyataannya (Syaikh Wahbah Zuhaili): Al-Kanzu islam tetap menjadi milik pemiliknya dan tidak dimiliki oleh si penemu, bahkan dianggap seperti luquthoh (barang temuan) sehingga wajib diumumkan. Oleh karena itu jika ditemukan pemiliknya, maka benda tersebut harus diserahkan kepadanya. Namun jika tidak, maka disedekahkan kepada orang-orang faqir, dan orang-orang faqir boleh memanfaatkan benda tersebut. Yang demikian ini merupakan pendapatnya para ulama madzhab Hanafi. Sedangkan para ulama madzhab Maliki, Syafi'i dan Hambali memperbolehkan untuk memilikinya serta memanfaatkannya. Hanya saja jika setelah itu pemiliknya ditemukan, maka wajib bagi dia untuk menggantinya.
وأما الكنز الجاهلي: فاتفق أئمة المذاهب على أن خمسه لبيت المال (خزانة الدولة) وأما باقيه وهو الأربعة الأخماس ففيها اختلاف: فقيل: إنها للواجد مطلقاً سواء وجدها في أرض مملوكة أم لا. وقيل: إنها للواجد في أرض غير مملوكة أوفي أرض ملكها بالإحياء. فإن كان في أرض مملوكة فهي لأول مالك لها أو لورثته إن عرفوا، وإلا فهي لبيت المال
Adapun Al-Kanzu jahiliyah, maka para imam madzhab telah sepakat bahwa seperlima dari benda tersebut diserahkan Baitul Mal, sedangkan empat per lima sisanya terdapat perbedaan pendapat dikalangan para imam madzhab. Qil (dikatakan) bahwa benda tersebut menjadi milik si penemu secara mutlak entah bendanya ditemukan ditanah miliknya atau bukan ditanah miliknya. Dan qil (dikatakan) bahwa benda tersebut menjadi milik si penemu jika ditemukan ditanah yang bukan menjadi miliknya atau ditemukan ditanah yang menjadi miliknya melalui jalan penghidupan (pelestarian). Atas dasar itu, jika benda tersebut ditemukan ditanah yang menjadi miliknya, maka benda itu tetap miliknya si pemilik pertama atau milik ahli warisnya jika (keberadaanya) diketahui. Namun jika tidak, maka (diserahkan ke) Baitul Mal.
مغني المحتاج إلى معرفة معاني ألفاظ المنهاج، الجزء ٣ الصحفة ٥٧٧
وفرقوا بينها وبين المال الضائع، بأن الضائع ما يكون محرزا بحرز مثله كالموجود في مودع الحاكم وغيره من الأماكن المغلقة، ولم يعرف مالكه، واللقطة ما وجد ضائعا بغير حرز، واشتراط الحرز فيه دونها إنما هو للغالب، وإلا فمنه ما لا يكون محرزا كما مر في إلقاء الهارب، ومنها ما يكون محرزا كما لو وجد درهما في أرض مملوكة أو في بيته ولا يدري أهو له أو لمن دخل بيته فعليه كما قال القفال أن يعرفه لمن يدخل بيته
Artinya : Para ulama telah membedakan antara (luquthoh/barang temuan) dan mal dho'i (harta yang hilang). Bahwasanya mal dho'i (harta yang hilang) adalah benda yang terjaga (tersimpan) disuatu tempat semisal yang tersimpan (khusus) ditempat penyimpanan seorang penguasa (Baitul Mal) atau ditempat tertutup lainnya dan pemiliknya tidak diketahui. Sedangkan luquthoh (barang temuan) adalah benda hilang yang ditemukan (oleh seseorang diselain di tempat penyimpanan yang khusus seperti halnya mal dho'i). Dan di dalam hal ini, syarat keterjagaan (atau tempat penyimpanannya tidaklah ditentukan), karena yang demikian itu merupakan sesuatu yang umum. Jika tidak, maka diantaranya ada benda yang tidak disimpan (secara khusus) seperti halnya benda yang ditinggalkan oleh seorang buronan (yang melarikan diri), dan diantaranya ada juga benda yang disimpan (secara khusus) semisal jika seseorang menemukan dirham ditanah miliknya atau didalam rumahnya dan diketahui apakah dirham tersebut merupakan miliknya ataukah milik orang yang masuk ke dalam rumahnya. Atas dasar itu sebagaimana yang dikatakan oleh imam Qoffal, maka hendaklah dia mengumumkannya kepada orang yang masuk ke rumahnya tersebut.
نهاية المحتاج إلى شرح المنهاج، الحزء ٥ الصحفة ٤٢٦
كتاب اللقطة بضم اللام وفتح القاف وقد تسكن ، وهي لغة : الشيء الملقوط ، وشرعا : مال أو اختصاص محترم ضاع بنحو غفلة بمحل غير مملوك لم يجز ولا عرف الواجد مستحقه ولا امتنع بقوته ، فما وجد في مملوك فلذي اليد ، فإن لم يدعه فلمن قبله إلى المحيي ثم يكون لقطة٠
Artinya : Bab terkait luquthoh (barang temuan), dengan dhommah pada huruf lam dan fathah pada huruf qof, namun bisa juga dibaca dengan huruf qof yang di sukunkan, luquthoh secara bahasa artinya sesuatu yang ditemukan. Sedangkan secara syariat, luquthoh adalah harta yang muhtarom (dimuliakan) dimana harta tersebut hilang disebabkan kelalaian (dari pemiliknya) ditempat yang bukan menjadi miliknya serta tidak diketahui pemiliknya oleh si penemu. Oleh karena itu, benda yang ditemukan ditempat yang menjadi miliknya adalah milik pemiliknya. Maka jika pemiliknya tidak mengakuinya (yakni mengklaim kalau benda tersebut miliknya), maka benda tersebut menjadi milik si penemu sampai pemilik (aslinya) ada atau ditemukan, kemudian menjadi luquthoh (barang temuan).
نعم ما وجد بدار حرب ليس بها مسلم وقد دخلها بغير أمان غنيمة، أو به فلقطة، وما ألقاه نحو ريح أو هارب لا يعرفه بنحو داره أو حجره وودائع مات عنها مورثه ولا يعرف مالكها مال ضائع لا لقطة، خلافا لما وقع في المجموع في الأولى أمره إلى الإمام فيحفظه أو ثمنه إن رأى بيعه أو يقرضه لبيت المال إلى ظهور مالكه إن توقعه وإلا صرف لمصارف بيت المال ، فإن لم يكن حاكم أو كان جائرا فلمن هي بيده ذلك كما مر نظيره
Ya, apa yang ditemukan di darul harb (tempat terjadinya perang) dimana tidak ada orang muslim didalamnya dan dimasuki tanpa adanya keamanan, maka benda itu dianggap sebagai ghonimah (harta rampasan). Atau (jika ada orang muslim didalamnya), maka benda tersebut dianggap sebagai luquthoh (barang temuan). Sedangkan benda yang tertiup oleh angin atau benda yang dibawa lari (semisal oleh pencuri) yang tidak diketahui disekitar rumahnya, serta benda yang ditinggalkan mati oleh pewarisnya dan pemiliknya tidak diketahui, maka benda tersebut adalah (seperti halnya hukum) mal dho'i (harta yang hilang), bukan (seperti halnya hukum) luquthoh (barang temuan). Berbeda dengan apa yang disebutkan didalam kitab Al-Majmu, dalam hal ini maka yang lebih utama urusannya diserahkan kepada imam, yakni untuk dijaga atau dijual jika dipandang (ada manfaatnya dengan cara dijual). Atau dipinjamkan ke Baitul Mal sampai pemiliknya ditemukan jika dia masih mengharapkan (benda tersebut). Namun jika tidak, maka benda tersebut ditashorufkan untuk (kemanfaatan) Baitul Mal. Dan jika tidak ada penguasa atau penguasa tersebut dzolim, maka benda tersebut (menjadi hak) ditangan (orang yang menemukannya) sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya.
روضة الطالبين وعمدة المفتين، الجزء ٢ الصحفة ٢٨٤
يُشْتَرَطُ فِي اللُّقَطَةِ ثَلَاثَةُ شُرُوْطٍ غَيْرُ مَا سَبَقَ. أَحَدُهَا أَنْ تَكُوْنَ شَيْئاً ضَاعَ مِنْ مَالِكِهِ لِسُقُوْطٍ أَوْ غَفْلَةٍ وَنَحْوِهِمَا فَأَمَّا إِذَا أَلْقَتِ الرِّيْحُ ثَوْبًا فِي حِجْرِهِ أَوْ أَلْقَى إِلَيْهِ هَارِبٌ كَيْساً وَلَمْ يَعْرَفْ مَنْ هُوَ أَوْ مَاتَ مُوَرِّثُهُ عَنْ وَدَائِعَ وَهُوَ لَا يَعْرِفُ مَلاَّكَهَا فَهُوَ مَالٌ ضَائِعٌ يُحْفَظُ وَلَا يُتَمَلَّكُ وَلَوْ وَجَدَ دَفِيْناً في الأرض فَالقَوْلُ فِي أَنَّهُ رِكَازٌ أَوْ لُقَطَةٌ سَبَقَ فِي الزَّكَاةِ. الثَّانِي أَنْ يُوْجَدَ فِي مَوَاتٍ أَوْ شَارِعٍ أَوْ مَسْجِدٍ أَمَّا إِذَا وُجِدَ فِي أَرْضٍ مَمْلُوكَةٍ فَقَالَ الْمُتَوَلِّيُ لَا يُؤْخَذُ لِلتَّمَلُّكِ بَعْدَ التَّعْرِيْفِ بَلْ هُوَ لِصَاحِبِ اليَدِ فِي الأَرْضِ فَإِنْ لَمْ يَدَعْهُ فَلِمَنْ كَانَتْ فِي يَدِهِ قَبْلَهُ وَهَكَذَا إِلَى أَنْ َينْتَهِيَ إِلَى المُحْيِي فَإِنْ لَمْ يَدَعْهُ حِيْنَئِذٍ يَكُونُ لُقَطَةً. الثَّالِثُ أَنْ يَكُونَ فِي دَارِ الإِسْلَامِ أَوْ فِي دَارِ الْحَرْبِ وَفِيْهَا مُسْلِمُونَ أَمَّا إِذَا لَمْ يَكُنْ فِيْهَا مُسْلِمٌ فَمَا يُوجَدُ فِيْهَا غَنِيْمَةٌ خُمُسُهَا لِأَهْلِ الْخُمُسِ وَالبَاقِي لِلْوَاجِدِ ذَكَرهُ البَغَوِيُّ وَغَيْرُهُ
Artinya : Pada barang yang ditemukan (lqatah) terdapat tiga syarat selain yang telah disebutkan sebelumnya. Salah satunya adalah barang tersebut haruslah sesuatu yang hilang dari pemiliknya karena terjatuh, kelalaian, dan semacamnya. Adapun jika angin melemparkan sehelai pakaian ke dalam pangkuannya, atau seseorang yang melarikan diri melemparkan sebuah kantong kepadanya, dan dia tidak mengetahui siapa orang tersebut, atau jika pemiliknya meninggal dan dia tidak mengetahui pemilik-pemilik barang titipan tersebut. Maka itu adalah (mal dloi') harta yang hilang yang harus dijaga dan tidak boleh dimiliki. Jika seseorang menemukan harta karun (dafi'in) di tanah, maka pendapat tentangnya adalah apakah itu merupakan harta yang terkubur (rikaz) atau barang temuan (luqatah), sebagaimana yang telah dibahas dalam zakat.
Kedua, barang tersebut harus ditemukan di tempat yang tidak dimiliki oleh seseorang, seperti tanah yang tidak dikelola (mawat), di jalan umum (syari') atau di masjid. Adapun jika barang tersebut ditemukan di tanah yang dimiliki, maka menurut pendapat al-Mutawalli, barang tersebut tidak boleh diambil untuk dimiliki setelah diumumkan (dikenalkan), tetapi barang itu menjadi milik pemilik tanah tempat barang tersebut ditemukan. Jika pemilik tanah tidak membiarkannya, maka barang tersebut menjadi milik orang yang sebelumnya memegangnya. Begitu seterusnya hingga akhirnya sampai kepada orang yang menghidupkan tanah (al-muhyi). Jika pada saat itu dia tidak membiarkannya, maka barang tersebut dianggap sebagai barang temuan (luqatah).
Yang ketiga adalah bahwa ia berada di dalam Dar al-Islam (Negeri Islam) atau di dalam Dar al-Harb (Negeri Perang), dan di sana ada orang-orang Muslim. Adapun jika di dalamnya tidak ada seorang Muslim pun, maka apa yang ada di dalamnya merupakan ghanimah (harta rampasan perang), seperlima (khumus) nya untuk ahli khumus, dan sisanya untuk orang yang menemukannya. Hal ini disebutkan oleh al-Baghawi dan selainnya.
الموسوعة الفقهية الكويتية، الجزء ٣٥ الصحفة ٣٠٢
تَمَلُّكُ اللُّقَطَةِ
١٤ - يَرَى جُمْهُورُ الْفُقَهَاءِ مَالِكٌ وَالشَّافِعِيُّ وَأَحْمَدُ جِوَازَ تَمَلُّكِ الْمُلْتَقِطِ اللُّقَطَةَ إِذَا عَرَّفَهَا لِلتَّمَلُّكِ سَنَةً أَوْ دُونَهَا وَلَمْ تُعْرَفْ، وَصَارَتْ مِنْ مَالِهِ سَوَاءٌ أَكَانَ غَنِيًّا أَمْ فَقِيرًا وَتَدْخُل فِي مِلْكِهِ عِنْدَ تَمَامِ التَّعْرِيفِ، كَمَا أَنَّ الشَّافِعِيَّ يَرَى أَنَّ اللُّقَطَةَ لاَ تَدْخُل مِلْكَ الْمُلْتَقِطِ حَتَّى يَخْتَارَ التَّمَلُّكَ بِلَفْظٍ يَدُل عَلَى الْمِلْكِ كَتَمَلَّكْتُ مَا الْتَقَطْتُهُ، أَمَّا الأَْخْرَسُ فَتَكْفِي إِشَارَتُهُ الْمُفْهِمَةُ كَسَائِرِ عُقُودِهِ
Artinya : Pemilikan barang temuan.
Mayoritas ulama, seperti Malik, Syafi'i, dan Ahmad, berpendapat bahwa diperbolehkan bagi seseorang yang menemukan barang (temuan) untuk memilikinya jika ia sudah mengumumkan atau memberitahukan barang tersebut untuk ditemui pemiliknya dalam waktu setahun atau kurang, dan jika barang tersebut tidak diketahui pemiliknya. Dan barang tersebut menjadi miliknya, baik ia seorang yang kaya atau miskin, dan barang itu masuk ke dalam kepemilikannya setelah ia menyelesaikan pengumuman atau pemberitahuan (terhadap barang temuan) dengan sempurna. Sebagaimana Imam Syafi'i berpendapat bahwa barang temuan tidak menjadi milik si penemu sampai ia memilih untuk memilikinya dengan ucapan yang menunjukkan kepemilikan, seperti 'Saya telah memiliki barang yang saya temukan. Adapun orang yang bisu, cukup dengan isyarat yang jelas yang dimengerti, seperti halnya pada akad-akad lainnya.
حاشية الشربيني، الجزء ٥ الصحفة ١٨
وَأَمَّا الِاسْتِعَانَةُ بِالْأَرْوَاحِ الْأَرْضِيَّةِ بِوَاسِطَةِ الرِّيَاضَةِ وَقِرَاءَةِ الْعَزَائِمِ إلَى حَيْثُ يَخْلُقُ اللَّهُ تَعَالَى عَقِيبَ ذَلِكَ عَلَى سَبِيلِ جَرْيِ الْعَادَةِ بَعْضَ خَوَارِقَ فَإِنْ كَانَ مَنْ يَتَعَاطَى ذَلِكَ خَيِّرًا مُتَشَرِّعًا فِي كَامِلِ مَا يَأْتِي وَيَذَرُ وَكَانَ مَنْ يَسْتَعِينُ بِهِ مِنْ الْأَرْوَاحِ الْخَيِّرَةِ وَكَانَتْ عَزَائِمُهُ لَا تُخَالِفُ الشَّرْعَ وَلَيْسَ فِيمَا يَظْهَرُ عَلَى يَدِهِ مِنْ الْخَوَارِقِ ضَرَرٌ شَرْعِيٌّ عَلَى أَحَدٍ فَلَيْسَتْ مِنْ السِّحْرِ بَلْ مِنْ الْأَسْرَارِ، وَالْمَعُونَةِ فَإِنْ انْتَفَى شَيْءٌ مِنْ تِلْكَ الْقُيُودِ فَتَعَلُّمُهَا حَرَامٌ إنْ تَعَلَّمَ لِيَعْمَلَ بَلْ كُفْرٌ إنْ اعْتَقَدَ الْحِلَّ فَإِنْ تَعَلَّمَهَا لِيَتَوَقَّاهَا فَمُبَاحٌ أَوَّلًا وَإِلَّا فَمَكْرُوهٌ اهـ
Artinya : Adapun meminta tolong terhadap bangsa roh-roh alam dunia dengan cara riyadloh, atau membaca azimat/doa sekiranya dengan perantara hal itu biasanya Allah ta'ala memberikan kepada dia hal-hal yang luar biasa, maka hukum hal ini diperinci : Apabila si-pelaku termasuk orang yang baik, berpegangan kepada syariat dengan sempurna, baik dalam menjalankan perintah maupun menjauhi larangan, dan arwah yang dimintai bantuan itu dari golongan arwah yang baik (mukmin), dan azimat/bacaan doa yang digunakan juga tidak bertentangan dengan syariat, serta hal-hal yang luar biasa yang muncul dari dia juga tidak mengakibatkan bahaya kepada seorang pun menurut syariat, maka hal itu bukan termasuk sihir, namun hal itu termasuk asror ( karomah) dan ma'unah. Apabila syarat-syarat dan kriteria diatas tidak ada, maka mempelajari hal-hal yang biasa di atas hukumnya adalah harom, jika tujuan belajarnya untuk melakukan dan mempraktekkan sihir yang di apelajari, bahkan bisa menjadikan dia kafir jika meyakini kebolehah sihir. Namun apabila dia mempelajari nya dengan tujuan untuk menjaga diri nya agar tidak terjerumus melakukan sihir, maka hukum mempelajarinya adalah boleh di awal mula, namun untuk berikutnya hukumnya makruh.
الاجوبة الغالية في عقيدة فرقة ناجية للحبيب زين العابدين، الجزء ١ الصحفة ٦٥
س: فهل يجوز طلب الإغاثة من غير الله ؟
ج: نعم، يجوز طلبها من غيره تعالى باعتبار أنَّ المخلوق – المستغاث به – سبب و واسطة، فإن الإغاثة وإن كانت من الله عز وجل على الحقيقة فلا ينافي أن الله تعالى جعل لذلك أسباباً و وسائط أعدَّها له، والدليل على ذلك قوله صلى الله عليه وسلم: (( والله في عون العبد ما كان العبد في عون أخيه )) رواه مسلم . وقوله صلى الله عليه وسلم في حقوق الطريق: (( وأن تغيثوا الملهوف وتهدوا الضال )) رواه أبو داود . فنسب الإغاثة إلى العبد وأضافها إليه وندب العباد أن يعين بعضهم بعضا ، فالمستعين بغير لله لا يطلب منه أن يخلق شيئاً وإنما قصده منه أن يدعو الله له في تخليصه من شدة مثلاً
Artinya : Pertanyaan: Apakah diperbolehkan meminta pertolongan kepada selain Allah?
Jawaban: Ya, diperbolehkan meminta pertolongan kepada selain Allah dengan i'tibar (mempertimbangkan) bahwa makhluk yang dimintai pertolongan hanyalah sebab dan perantara saja meskipun pertolongan itu hakikatnya berasal dari Allah, maka tidak ternafikan bahwa Allah telah menjadikan sebab dan perantara untuk hal itu. Dan sebagai dalilnya adalah sabda nabi shallallahu 'alaihi wasallam: Allah akan selalu menolong hambanya selama hambanya tersebut menolong saudaranya.
Juga sabda nabi shallallahu 'alaihi wasallam terkait huquuqit thoriq: Tolonglah olehmu orang yang terdesak dan berilah olehmu petunjuk kepada orang yang tersesat. Maka pertolongan itu dihubungkan dengan seorang hamba untuk mendorongnya saling membantu (satu sama lain). Atas dasar itu, seseorang yang meminta pertolongan kepada selain Allah tidaklah (dianggap) meminta agar dia menciptakan sesuatu, akan tetapi maksud atau tujuannya adalah supaya berdoa kepada Allah semisal untuk membebaskannya (menjauhkannya) dari kesulitan.
سراج الجليل، الصحفة ٤
ومن اراد ان يأتي دراهم من غيب الله يتلو الاية كل ليلة عدد ٤٥٠ ثم يذكر الاسماء ٣١٣ يلازم على ذلك يصير على ما ذكر والاسماء المذكورة تقول اللهم يا كافي اكفني نوائب الدنيا ومصائب الدهر الخ
Artinya : Dan barang siapa yang ingin mendapatkan uang dari karunia Allah, hendaklah ia membaca ayat tersebut setiap malam sebanyak 450 kali, kemudian menyebutkan nama-nama (tertentu) sebanyak 313 kali. Jika ia konsisten melakukannya, maka ia akan memperoleh apa yang disebutkan. Adapun nama-nama yang disebutkan itu adalah: 'Ya Allah, Wahai Yang Maha Kaya, cukupkanlah aku dari kesulitan dunia dan musibah masa (zaman).
والله أعلم بالصواب
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته
PENANYA
Nama : Taufiqurrahman
Alamat : Sumber Sari, Jember, Jawa Timur
__________________________________
MUSYAWWIRIN
Anggota Grup BM Nusantara (Tanya Jawab Hukum Online)
PENASIHAT
Habib Ahmad Zaki Al-Hamid (Kota Sumenep, Madura)
PENGURUS
Ketua: Ustadz Zainullah Al-Faqih (Umbul Sari, Jember, Jawa Timur)
Wakil: Ustadz Taufik Hidayat (Pegantenan, Pamekasan, Madura)
Sekretaris: Ustadz Moh. Kholil Abdul Karim (Karas, Magetan, Jawa Timur)
Bendahara: Ustadz Supandi (Pegantenan, Pamekasan, Madura)
TIM AHLI
Kordinator Soal: Ustadz Qomaruddin (Umbul Sari, Jember, Jawa Timur), Ustadz Faisol Umar Rozi (Proppo, Pamekasan, Madura)
Deskripsi Masalah: Ustadz Faisol Umar Rozi (Proppo, Pamekasan, Madura)
Moderator: Ustadz Hosiyanto Ilyas (Jrengik, Sampang, Madura)
Perumus: Lusy Windari (Jatilawang, Banyumas, Jawa Tengah)
Muharrir: Kyai Mahmulul Huda (Bangsal Sari, Jember, Jawa Timur), K.H. Abdurrohim (Maospati, Magetan, Jawa Timur)
Editor: Ustadz Taufik Hidayat (Pegantenan, Pamekasan, Madura)
Terjemah Ibarot : Ustadz Rahmatullah Metuwah (Babul Rahmah, Aceh Tenggara, Aceh), Ustadz Masruri Ainul Khayat (Kalimantan Barat), Ustadz Ahmad Marzuki (Cikole, Sukabumi, Jawa Barat), Kyai Muntahal 'Ala Hasbullah (Giligenting, Sumenep, Madura), Gus Robbit Subhan (Balung, Jember, Jawa Timur), Ustadz Ahmad Alfadani (Balongbendo, Sidoarjo, Jawa Timur), Ustadz Abdurrozaq (Wonokerto, Pekalongan, Jawa Tengah), Ustadzah Lusy Windari (Jatilawang, Banyumas, Jawa Tengah)
Mushohhih terjemahan : K.H. Abdurrohim (Maospati, Magetan, Jawa Timur)
________________________________________
Keterangan:
1) Pengurus adalah orang yang bertanggung jawab atas grup ini secara umum.
2) Tim ahli adalah orang yang bertugas atas berjalannya grup ini.
3) Bagi para anggota grup yang memiliki pertanyaan diharuskan untuk menyetorkan soal kepada koordinator soal dengan via japri, yakni tidak diperkenankan -sharing- soal di grup secara langsung.
4) Setiap anggota grup boleh usul atau menjawab walaupun tidak berreferensi. Namun, keputusan tetap berdasarkan jawaban yang berreferensi.
5) Dilarang -posting- iklan/video/kalam-kalam hikmah/gambar yang tidak berkaitan dengan pertanyaan, sebab akan mengganggu berjalannya diskusi.
Komentar
Posting Komentar