Hukum Memberikan GIF (Hadiah Virtual) Kepada Peserta DA (Dangdut Academy) ?
HASIL KAJIAN BM NUSANTARA
(Tanya Jawab Hukum Online)
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
DESKRIPSI
Dangdut Academy (DA) adalah ajang pencarian bakat menyanyi dangdut yang diselenggarakan oleh Indosiar. Acara ini pertama kali tayang pada tahun 2014 dan telah melahirkan banyak penyanyi dangdut terkenal seperti Lesti Kejora, Fildan Rahayu, dan Sridevi.
Dalam kompetisi ini, peserta akan dinilai oleh juri dan pemirsa melalui SMS dan aplikasi pihak ketiga. Salah satu fitur unik dari Dangdut Academy adalah pemberian Virtual Gift D'Sultan kepada peserta.
Dangdut Academy telah menjadi salah satu acara pencarian bakat paling populer di Indonesia dan telah melahirkan banyak penyanyi dangdut sukses, penyanyi yang memakai hijab pun juga ada, muslimah berkarir dalam bidang tarik suara dangdut. Namun sebagian ulama mengecam akan hal tersebut karena dianggap menolong kemaksiatan dan gembira memeriahkan kemaksiatan.
PERTANYAAN :
Bagaimana hukum memberikan GIF (hadiah virtual) kepada peserta?, dan apa status hukum pemberian tersebut ?
JAWABAN :
Pemberian gift hukumnya ditafsil ;
1) Jika pemberian gift itu diuangkan dan digunakan untuk hal yang tidak diharamkan, maka makruh bahkan boleh.
2) Apabila gift itu menopang perolehan suara sehingga berlanjut ke jenjang berikutnya yaitu iku lanjut bernyanyi, maka ketika bernyanyi hukumnya haram, maka pemberiannya termasuk i'anah alal maksiat, jika tidak, maka فلا إثم (tidak berdosa).
3) Memberikan gift belum tentu dianggap i'anah terhadap maksiat , tetepi ridho terhadap kemaksiatan hukumnya haram.
REFERENSI :
القواعد الفقهية وتطبيقاتها في المذاهب الأربعة ، الجزء ١ الصحفة ٣٩٨
القاعدة: [٦٤] ما حرم أخذه حرم إعطاؤه
الألفاظ الأخرى ما حرم على الآخذ أخذه حرم على المعطي إعطاؤه٠
التوضيح: إن الشيء المحرم الذي لا يجوز لأحد أن يأخذه ويستفيد منه يحرم عليه أيضاً أن يقدمه لغيره ويعطيه إياه، سواء أكان على سبيل المنحة ابتداء، أم على سبيل المقابلة، كما حرم الأخذ والإعطاء حرم الأمر بالأخذ، إذ الحرام لا يجوز فعله، ولا الأمر بفعله، وذلك لأن الإعطاء تشجيع على أخذ المحرم، فيكون المعطي شريك الآخذ في الإثم، ولأن إعطاءه الغير عندئذ يكون من قبيل الدعوة إلى المحرم، أو الإعانة والتشجيع عليه، ومن المقرر شرعاً أنه كما لا يجوز فعل الحرام لا يجوز الإعانة والتشجيع عليه، لقوله تعالى: (وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ) ويتفرع على هذه القاعدة قواعد أخرى "ما حرم فعله حرم طلبه " (م/ ٣٥) "ما حرم استعماله حرم اتخاذه"
Artinya : Kaidah [64]: Apa saja yang haram diambil/dipakai, maka haram pula diberikan kepada orang lain.
Redaksi lain: Apa yang haram bagi penerima untuk mengambilnya, maka haram pula bagi pemberi untuk memberikannya.
Penjelasan: Sesungguhnya segala sesuatu yang haram, yang tidak boleh diambil dan dimanfaatkan oleh siapapun, maka juga haram bagi seseorang untuk menyerahkannya kepada orang lain dan memberikannya kepadanya, baik dalam bentuk pemberian secara cuma-cuma sejak awal, maupun dalam bentuk imbalan atau transaksi.
Dan sebagaimana diharamkan mengambil dan memberi, maka diharamkan pula memerintahkan untuk mengambilnya. Sebab, perkara haram tidak boleh di kerjakan dan tidak boleh pula diperintahkan untuk dikerjakan. Alasan larangan di atas karena pemberian barang haram merupakan bentuk dorongan untuk mengambil sesuatu yang haram, sehingga pihak yang memberi menjadi sekutu bagi pihak yang mengambilnya dalam perbuatan dosa. Selain itu, pemberian barang haram kepada orang lain dalam kondisi tersebut termasuk ajakan kepada perbuatan haram, atau bentuk bantuan dan dorongan terhadapnya.
Dalam syariat telah ditetapkan bahwa sebagaimana tidak boleh melakukan perbuatan haram, maka tidak boleh pula membantu dan mendorong orang lain kepada perbuatan tersebut, berdasarkan firman Allah Ta‘ala: “Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan ketakwaan, dan jangan tolong-menolong dalam dosa dan pelanggaran syariat.”
Dari kaidah ini bercabang kepada kaidah-kaidah lain, di antaranya: “Apa saja yang haram dilakukan, maka haram pula memintanya.” (Kaidah no. 35)
“Apa saja yang haram digunakan, maka haram pula menyimpannya.
تحفة المحتاج في شرح المنهاج، الجزء ٢٩ الصحفة ١٢٩
٠( فصل ) في صدقة التطوع ، وهي المرادة عند الإطلاق غالبا ( صدقة التطوع سنة ) مؤكدة للآيات والأحاديث الكثيرة الشهيرة فيها منها الخبر الصحيح { كل امرئ في ظل صدقته حتى يفصل بين الناس } وقد تحرم كأن علم كذا وكذا إن ظن فيما يظهر من الآخذ أنه يصرفها في معصية ( قوله : أنه يصرفها في معصية ) وهل يملكها حينئذ أم لا ؟ فيه نظر ، والأقرب الأول ولا يلزم من الحرمة عدم الملك كما في بيع العنب لعاصر الخمر .ا هـ . ع ش
Artinya : (Fasal) Tentang sedekah sunnah, yaitu sedekah yang dimaksud ketika disebutkan secara mutlak pada umumnya.
Sedekah sunnah hukumnya adalah sunah muakkadah, berdasarkan ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits-hadits yang banyak serta masyhur tentang keutamaannya. Di antaranya adalah hadits sahih : “Setiap orang berada di bawah naungan sedekahnya, sehingga diputuskan perkara di antara manusia (yakni di padang mahsyar).”
Sedekah sunnah terkadang bisa menjadi haram, misalnya apabila seseorang mengetahui atau menduga kuat —berdasarkan keadaan yang tampak dari penerima —bahwa sedekah tersebut akan dia gunakan untuk perbuatan maksiat. (Perkataan penulis : “bahwa ia akan menggunakannya untuk maksiat”)
Dan apakah dalam keadaan seperti itu si penerima tetap menjadi pemilik sedekah tersebut atau tidak? Maka dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat. Dan Pendapat yang lebih dekat (lebih kuat) adalah : bahwa ia tetap menjadi pemiliknya. Keharaman (memberikan sedekah kepada dia) tidak serta-merta meniadakan kepemilikan pada barang yang di sedekahkan kepadanya, sebagaimana halnya menjual anggur kepada orang yang mengolahnya untuk dijadikan khamar.
الولاء والبراء والعداء في الإسلام ، الصحفة ٧٦
[الإعانة على الإثم والعدوان حدوده وضوابطه]
لا شك أن الإعانة المباشرة على الإثم والعدوان محرمة بنص القرآن وكذلك الإعانة الغير مباشرة على الإثم والعدوان محرمة إذا كانت مقصودة والأعمال بالنيات قال تعالى: ولا تعاونوا على الإثم والعدوان
Artinya : [Membantu dalam Dosa dan Pelanggaran syariat (aturan agama) : Batasan dan Ketentuannya]
Tidak diragukan lagi bahwa membantu secara langsung dalam perbuatan dosa dan pelanggaran syariat adalah haram berdasarkan nash Al-Qur’an. Demikian pula, membantu secara tidak langsung dalam dosa dan pelanggaran syariat juga haram apabila dilakukan dengan sengaja, karena sesungguhnya amal perbuatan itu tergantung pada niatnya. Allah Ta‘ala berfirman: “Dan janganlah kalian saling tolong-menolong dalam dosa dan pelanggaran syariat.
وعلى هذا فالإعانة على الإثم والعدوان أربعة أقسام؛
١ - مباشرة مقصودة كمن أعطى آخر خمراً بنية إعانته على شربها
٢ - مباشرة غير مقصودة ومنه بيع المحرمات التي ليس لها استعمال مباح إذا لم ينو إعانتهم على استعمالها المحرم
٣ - مقصودة غير مباشرة كمن أعطى آخر درهماً ليشتري به خمراً ومنه القتل بالتسبب
٤ - غير مباشرة ولا مقصودة كمن باع ما يستعمل في الحلال والحرام ولم ينو إعانة مستعمليه في الحرام، وكمن أعطى آخر درهماً لا ليشتري به خمراً فإن اشترى به خمراً وشربه فلا إثم على من أعطاه الدرهم طالما لم ينو به إعانته على المحرم
Berdasarkan hal ini, maka membantu dalam dosa dan pelanggaran syariat itu terbagi menjadi empat macam:
1) Langsung dan di sengaja untuk maksiat, seperti contoh : seseorang memberikan minuman keras kepada orang lain dengan niat membantunya untuk meminum minuman keras tersebut.
2) Langsung tetapi tidak disengaja untuk maksiat, seperti contoh : menjual barang-barang yang diharamkan yang tidak memiliki kegunaan yang dibolehkan, selama ia tidak berniat membantu penggunaan barang tersebut untuk hal-hal yang haram.
3) Disengaja tetapi tidak langsung, seperti contoh : seseorang memberi orang lain uang agar digunakan untuk membeli minuman keras. Dan termasuk dalam kategori ini adalah pembunuhan melalui sebab (tidak secara langsung).
4) Tidak langsung dan tidak disengaja, seperti contoh : menjual barang yang bisa digunakan untuk hal yang halal maupun haram tanpa niat membantu penggunaannya dalam hal yang haram, atau seperti seseorang memberi uang kepada orang lain bukan untuk membeli minuman keras, lalu orang tersebut ternyata membelinya dan meminumnya.
Maka tidak ada dosa bagi orang yang memberi uang tersebut selama ia tidak berniat membantu perbuatan haram. (Dan dia juga tidak meyakini/menduga bahwa si penerima akan menggunakan untuk maksiat)
ومن هذا القسم الرابع البيع والشراء والإجارة من المشركين وفساق المسلمين والتصدق عليهم بالمال، وقد كان قرار مجمع فقهاء الشريعة بأمريكا " في دورته الخامسة التي انعقدت بالبحرين سنة ١٤٢٨هـ تحريم الأنواع الثلاثة الأولى وإباحة القسم الرابع وهو ما ليس مباشراً ولا مقصودا٠
Termasuk dalam kategori keempat ini adalah : jual beli, sewa-menyewa dengan orang-orang musyrik dan kaum muslimin yang fasiq/pendosa, serta bersedekah kepada mereka dengan harta. Majelis Fikih Syariah di Amerika dalam sidangnya yang kelima, yang diselenggarakan di Bahrain pada tahun 1428 H, telah memutuskan keharaman tiga jenis yang pertama dan membolehkan jenis yang keempat, yaitu yang tidak langsung dan tidak disengaja.
وأما ضابط الإعانة على الإثم والعدوان الذي يحدد ما يكون إعانة مباشرة وما لا يكون فهو العادة الجارية الغالبة؛ فما يُعتبر فيها إعانة على المحرم مباشرة فهي الإعانة التي نُهينا عنها , وأصل ذلك أنه لا ضابط للإعانة المباشرة في اللغة، ولا في الشريعة، فوجب اعتبار العرف والخبرة
Adapun tolok ukur dalam membantu dosa dan pelanggaran syariat, yang membedakan mana yang tergolong bantuan langsung dan mana yang tidak, adalah kebiasaan umum yang berlaku secara dominan. Yakni Apa saja yang menurut kebiasaan dianggap sebagai bantuan langsung terhadap perbuatan haram, maka itulah bentuk bantuan yang dilarang. Hal ini karena tidak terdapat batasan yang jelas tentang bantuan langsung baik secara bahasa maupun secara syariat, sehingga harus dikembalikan kepada adat kebiasaan dan pengalaman yang berlaku.
الجمل على شرح المنهج، الجزء ٥ الصحيفة ٣٦٠
ما نصه : (كغناء بلا ألة واستماعه) فإنهما مكروهان لما فيه من اللهو وأما مع الألة فمحرمان ( قوله أما مع الآلة فمحرمان )، وهذا ما مشى عليه الشارح والذي مشى عليه م ر في شرحه أن الغناء مكروه على ما هو عليه والآلة محرمة وعبارته ومتى اقترن بالغناء آلة محرمة فالقياس كما قاله الزركشي تحريم الآلة فقط وبقاء الغناء على الكراهة انتهت
Artinya : Bunyi teksnya (Seperti bernyanyi tanpa alat musik dan mendengarkannya) maka hukum keduanya adalah makruh karena mengandung unsur senda gurau (melalaikan). Adapun jika disertai dengan alat musik, maka hukumnya haram. (Ucapan: ‘Adapun jika disertai alat musik maka keduanya haram’). Inilah pendapat yang diikuti oleh pensyarah. Sedangkan pendapat yang diikuti oleh Imam Romli dalam syarahnya adalah bahwa bernyanyi tetap makruh sebagaimana asal hukumnya, sedangkan alat musiknya saja yang haram. Bunyi Redaksinya : ‘Apabila bernyanyi disertai alat musik yang haram, maka menurut qiyas (sebagaimana dikatakan oleh Az-Zarkasyi) yang haram hanyalah alat musiknya saja, sedangkan hukum bernyanyinya tetap makruh.’ Selesai.
الموسوعة الفقهية الكويتية، الجزء ٢ الصحفة ٢٩١
اختلاط الرجال بالنساء؛
٤ - يختلف حكم اختلاط الرجال بالنساء بحسب موافقته لقواعد الشريعة أو عدم موافقته، فيحرم٠
الاختلاط إذا كان فيه؛
أ - الخلوة بالأجنبية، والنظر بشهوة إليها.
ب - تبذل المرأة وعدم احتشامها٠
ج - عبث ولهو وملامسة للأبدان كالاختلاط في الأفراح والموالد والأعياد، فالاختلاط الذي يكون فيه مثل هذه الأمور حرام، لمخالفته لقواعد الشريعة٠
Artinya : Berbaurnya Laki-laki dan Perempuan ;
4. Terdapat perbedaan hukum berbaurnya Laki-laki dan Perempuan dengan mempertimbangkan persesuaiannya terhadap kaidah syariat ataupun tidaknya. Maka haram hukumnya berbaur (antara Laki-laki dan Perempuan) apabila ada didalamnya :
a) Bersepian dengan Wanita yang bukan mahramnya dan melihatnya dengan syahwat.
b) Pelecehan kepada Wanita dan tidak adanya rasa malu dari Wanita tersebut.
c) senda gurau (godaan), bermain-main dan saling bersentuhan badan seperti berbaur pada saat pesta, ulang tahun, dan hari raya. Maka berbaur yang di dalamnya terdapat seperti perkara-perkara ini adalah haram, karena menyalahi kaidah-kaidah syariat.
مغني المحتاج، الجزء ٤ - الصفحة ٤٣١
أما العورة فكشفها حرام
Artinya : Adapun aurat, maka membukanya adalah haram.
اسعاد الرفيق، الجزء ٢ الصحفة ١٢٨
ومنها أي من معاصى البدن الاعانة على المعصية أي على معصية من معاصى الله بقول او فعل او غيره ثم ان كانت المعصية كبيرة كانت الاعانة عليها كذالك كما في الزواجر قال فيها وذكري لهذين أي الرضا بها والاعانة عليها باي نوع كان ظاهر معلوم مما سيأتـي في الامر بالمعروف والنهي عن المنكر
Artinya : Dan di antaranya ( yakni termasuk maksiat anggota badan ) adalah : membantu perbuatan maksiat, yaitu membantu salah satu bentuk maksiat kepada Allah swt, baik dengan ucapan, perbuatan, ataupun selain keduanya. Kemudian, apabila maksiat tersebut termasuk dosa besar, maka membantu melakukannya juga termasuk dosa besar, sebagaimana disebutkan dalam kitab Az-Zawājir.
Di dalamnya Syekh Ibnu Hajar menyebutkan bahwa penyebutan saya terhadap dua hal ini (yaitu ridha terhadap maksiat dan membantu pelaksanaannya dengan cara apa pun ) adalah sesuatu yang jelas dan sudah diketahui, sebagaimana akan dijelaskan kemudian dalam pembahasan amar makruf dan nahi mungkar.
اسعاد الرفيق، الجزء ٢ الصحفة ٥٠
ومنها الفرح بالمعصية والرضا بها سواء صدرت منه أو صدرت من غيره من خلق الله لأن الرضا بالمعصية معصية بل هو من الكبائر كما في الزواجر، وكل ما حرم... حرم التفرج عليه لأنه إعانة على معصية
Artinya : Diantara kemaksiatan adalah : bergembira dengan perbuatan maksiat dan meridhainya, baik maksiat itu dilakukan oleh dirinya sendiri maupun oleh orang lain dari makhluk Allah. Karena meridhai perbuatan maksiat adalah maksiat pula, bahkan itu termasuk dalam kategori dosa besar, sebagaimana disebutkan dalam kitab Az-Zawājir.
Dan setiap perbuatan yang diharamkan, maka haram pula menyaksikannya, karena hal itu termasuk membantu terjadinya maksiat.
والله أعلم بالصواب
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
PENANYA :
Nama : Mabrurotul Aulia
Alamat : Batumarmar, Pamekasan, Madura
__________________________________
MUSYAWWIRIN
Anggota Grup BM Nusantara (Tanya Jawab Hukum Online)
PENASIHAT
Habib Ahmad Zaki Al-Hamid (Kota Sumenep, Madura)
PENGURUS
Ketua: Ustadz Zainullah Al-Faqih (Umbul Sari, Jember, Jawa Timur)
Wakil: Ustadz Taufik Hidayat (Pegantenan, Pamekasan, Madura)
Sekretaris: Ustadz Moh. Kholil Abdul Karim (Karas, Magetan, Jawa Timur)
Bendahara: Ustadz Supandi (Pegantenan, Pamekasan, Madura)
TIM AHLI
Kordinator Soal: Ustadz Qomaruddin (Umbul Sari, Jember, Jawa Timur), Ustadz Faisol Umar Rozi (Proppo, Pamekasan, Madura)
Deskripsi Masalah: Ustadz Faisol Umar Rozi (Proppo, Pamekasan, Madura)
Moderator: Ustadz Hosiyanto Ilyas (Jrengik, Sampang, Madura)
Perumus: Ustadz Taufik Hidayat (Pegantenan, Pamekasan, Madura)
Muharrir: Kyai Mahmulul Huda (Bangsal Sari, Jember, Jawa Timur)
Editor: Ustadz Taufik Hidayat (Pegantenan, Pamekasan, Madura)
Terjemah Ibarot : Ustadz Rahmatullah Metuwah (Babul Rahmah, Aceh Tenggara, Aceh), Ustadz Ahmad Marzuki (Cikole, Sukabumi, Jawa Barat), Kyai Muntahal 'Ala Hasbullah (Giligenting, Sumenep, Madura), Gus Robbit Subhan (Balung, Jember, Jawa Timur), Ustadz Ahmad Alfadani (Balongbendo, Sidoarjo, Jawa Timur), Ustadz Abdurrozaq (Wonokerto, Pekalongan, Jawa Tengah), Ustadzah Lusy Windari (Jatilawang, Banyumas, Jawa Tengah)
Mushohhih terjemahan : K.H. Abdurrohim (Maospati, Magetan, Jawa Timur)
________________________________________
Keterangan:
1) Pengurus adalah orang yang bertanggung jawab atas grup ini secara umum.
2) Tim ahli adalah orang yang bertugas atas berjalannya grup ini.
3) Bagi para anggota grup yang memiliki pertanyaan diharuskan untuk menyetorkan soal kepada koordinator soal dengan via japri, yakni tidak diperkenankan -sharing- soal di grup secara langsung.
4) Setiap anggota grup boleh usul atau menjawab walaupun tidak berreferensi. Namun, keputusan tetap berdasarkan jawaban yang berreferensi.
5) Dilarang -posting- iklan/video/kalam-kalam hikmah/gambar yang tidak berkaitan dengan pertanyaan, sebab akan mengganggu berjalannya diskusi.
Komentar
Posting Komentar