Rukun Wudlu Menurut Pendapat Imam Malik (Malikiyah), Imam Ahmad (Hanabilah) dan (Hanafiyyah) Serta Hal-Hal yang Membatalkan Wudlu Menurut Pendapat Mereka

HASIL KAJIAN BM NUSANTARA 
(Tanya Jawab Hukum Online)

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

DESKRIPSI

Badrun & Badriah (nama samaran) baru saja pulang dari ibadah Umroh. Badrun & Badriyah merupakan seseorang yang setiap harinya muamalat, muasyaroh dan ubudiyahnya ikut Asy-Syafiiyah. 

Dalam perjalanan menuju Badrun dan Badriah mengalami hal-hal baru yang belum pernah mereka berdua lakukan, seperti ;
a) sholat jama' di pesawat.
b) bertayamum pada punggung kursi pesawat. Namun jamaah yang lain ada yang wudlu dengan air yang ditaruk di dalam botol Kispray untuk disemprotkan ke anggota wudlu. 
c) berwudlu dengan cara Imam Malik atau Imam Ahmad untuk menghindari batalnya wudlu dengan bersentuhannya lawan jenis saat thawaf. 
d) sholat subuh tanpa qunut, karena imamnya tidak qunut karena bermazhab Hanbali. 
e) Thawaf memakai Popok saat Umroh pertamanya, karena Badrun sedang beser saat ada di Mekkah.

PERTANYAAN

Bagaimana rukun wudlu menurut pendapat Imam Malik (Malikiyah) dan Imam Ahmad (Hanabilah) dan (Hanafiyyah) serta apa yang membatalkan wudlu menurut pendapatnya?

JAWABAN

Rukun wudlu menurut 4 madzhab adalah sama dalam masalah  4 anggota wudhu. 
Adapun yang berbeda dengan madzhab Syafi'i adalah :
1. Niat menurut Hanafiyah sunnah.
2. Membaca basmalah wajib menurut Hanbali.
3. Mengusap kepala dalam madzhab Hanafi : Wajib minimal seperempat kepala. Dalam madzhab Maliki : wajib mengusap seluruh bagian kepala. Madzhab Hanbali : Wajib seluruh bagian kepala termasuk kedua telinga. 
4. Tartib (berurutan) hukumnya sunnah menurut Hanafiyah dan Malikiyah.
5. Muwalah Wajib menurut madzhab Maliki dan Hambali
6. Ad-dalku ( menggosok anggota wudhu ) hukumnya wajib menurut ulama' madzhab Maliki.

Adapun perkara yang membatalkan wudlu di antaranya yang berbeda :

1. Menurut Madzhab Maliki ;
a) keluarnya sesuatu dari kubul dan dhubur hanya sebatas yang normal dan umum saja. Adapun perkara yang langka (jarang terjadi) seperti keluar angin dari farji wanita, maka itu tidak membatalkan wudhu.
b) sentuhan lawan jenis jika disertai adanya syahwat dan kenikmatan.

2. Menurut Madzhab Hambali :
a) sentuhan laki perempuan jika disertai syahwat.
b) muntah.
c) keluar darah/nanah dari tubuh jika banyak.
d) makan daging unta.

3. Menurut Madzhab Hanafi 
a) keluarnya sesuatu dari kubul dan dubur kecuali kentut wanita dari farjinya menurut pendapat al ashah.
b) menyentuh kemaluan dengan dzakar yang dalam keadaan ereksi tanpa ada penghalang. 
c) bersetubuh.
d) muntah memenuhi mulut.
e) darah mengalir yang keluar dari luka. 
e) tertawa terbahak bahak jika dilakukan di dalam shalat yang memiliki ruku' dan sujud.

REFERENSI:

متن الأخضري في العبادات على مذهب الإمام مالك، الجزء  ١ الصحفة ٥ — الأخضري (ت ٩٨٣)

فَصْلٌ: فَرَائِضُ الْوُضُوءِ سَبْعٌ: اَلنِّيَّةُ، وَغَسْلُ الْوَجْهِ، وَغَسْلُ الْيَدَيْنِ إِلَى الْمِرْفَقَيْنِ، وَمَسْحُ الرَّأْسِ، وَغَسْلُ الرِّجْلَيْنِ إِلَى الْكَعْبَيْنِ، وَالدَّلْكُ، وَالْفَوْرُ

Artinya : Pasal: Fardu-Fardu Wudhu' (versi madzhab Maliki)

Fardhu wudhu ada tujuh, yaitu : niat, membasuh wajah, membasuh kedua tangan hingga kedua siku, mengusap (seluruh) kepala, membasuh kedua kaki hingga kedua mata kaki, menggosok anggota wudu, dan melakukannya secara berturut-turut tanpa jeda yang lama (muwalat).


متن الأخضري في العبادات على مذهب الإمام مالك،الجزء  ١ الصحفة ٦ — الأخضري (ت ٩٨٣)

فَصْلٌ: نَوَاقِضُ الْوُضُوءِ أَحْدَاثٌ وَأَسْبَابٌ: فَالْأَحْدَاثُ: الْبَوْلُ وَالْغَائِطُ وَالرِّيحُ وَالْمَذْيُ وَالْوَدْيُ. وَالْأَسْبَابُ: النَّوْمُ الثَّقِيلُ وَالْإِغْمَاءُ وَالسُّكْرُ وَالْجُنُونُ وَالْقُبْلَةُ، وَلَمْسُ الْمَرْأَةِ إِنْ قَصَدَ اللَّذَّةَ أَوْ وَجَدَهَا، وَمَسُّ الذَّكَرِ بِبَاطِنِ الْكَفِّ أَوْ بِبَاطِنِ الْأَصَابِعِ. وَمَنْ شَكَّ فِي حَدَثٍ وَجَبَ عَلَيْهِ الْوُضُوءُ إِلَّا أَنْ يَكُونَ مُوَسْوَسًا فَلَا شَيْءَ عَلَيْهِ. وَيَجِبُ عَلَيْهِ غَسْلُ الذَّكَرِ كُلِّهِ مِنَ الْمَذْيِ، وَلَا يَغْسِلُ الْأُنْثَيَيْنِ. وَالْمَذْيُ هُوَ الْمَاءُ الْخَارِجُ عِنْدَ الشَّهْوَةِ الصُّغْرَى بِتَفَكُّرٍ أَوْ نَظَرٍ أَوْ غَيْرِهِ

Artinya : Pasal: Hal-Hal yang Membatalkan Wudhu' (versi madzhab Maliki)

Hal-hal yang membatalkan wudlu terbagi menjadi dua, yaitu : Beberapa hadats dan sebab-sebab tertentu.

Hadats meliputi : buang air kecil, buang air besar, kentut, keluar madzi, dan keluar wadi.

Adapun sebab-sebab yang membatalkan wudhu' meliputi tidur nyenyak, pingsan, mabuk, gila, berciuman, menyentuh perempuan apabila bertujuan untuk memperoleh kenikmatan atau merasakan kenikmatan tersebut, serta menyentuh kemaluan laki-laki dengan bagian dalam telapak tangan atau bagian dalam jari-jari.

Barang siapa ragu apakah dirinya berhadas (atau tidak), maka ia wajib berwudu, kecuali orang yang mengalami waswas, maka ia tidak dikenai kewajiban apa pun karena keraguannya tersebut. Orang yang mengeluarkan madzi wajib membasuh seluruh kemaluannya, tetapi tidak wajib membasuh kedua buah zakarnya.

Madzi adalah cairan pekat yang keluar ( dari kemaluan ) ketika timbul syahwat ringan, baik karena memikirkan sesuatu, melihat sesuatu, maupun sebab lainnya.


أخير المدخرات شرح أخصر المختصرات،الجزء ١ الصحفة ١٢ — حازم خنفر (معاصر)

فُرُوضُ الوُضُوءِ سِتَّةٌ ؛
الأَوَّلُ: (غَسْلُ الوَجْهِ مَعَ مَضْمَضَةٍ وَاسْتِنْشَاقٍ)٠
٠(وَ) الثَّانِي: (غَسْلُ اليَدَيْنِ) مَعَ المِرْفَقَيْنِ٠
٠(وَ) الثَّالِثُ: غَسْلُ (الرِّجْلَيْنِ) مَعَ الكَعْبَيْنِ٠
٠(وَ) الرَّابِعُ: (مَسْحُ جَمِيعِ الرَّأْسِ مَعَ الأُذُنَيْنِ)٠
٠(وَ) الخَامِسُ: (تَرْتِيبٌ) بَيْنَ الأَعْضَاءِ٠
٠(وَ) السَّادِسُ: (مُوَالَاةٌ)، وَهِيَ أَنْ لَا يُؤَخِّرَ غَسْلَ عُضْوٍ حَتَّى يَنْشَفَ الَّذِي قَبْلَهُ٠
٠(وَالنِّيَّةُ) مَحَلُّهَا القَلْبُ، وَهِيَ (شَرْطٌ لِكُلِّ طَهَارَةٍ شَرْعِيَّةٍ) كَالوُضُوءِ وَالغُسْلِ


Artinya : Fardhu-Fardhu Wudhu' Ada Enam (versi madzhab Hambali) :

Pertama : Membasuh wajah disertai berkumur dan menghirup air ke dalam hidung.
Kedua : Membasuh kedua tangan hingga kedua siku.
Ketiga : Membasuh kedua kaki hingga kedua mata kaki.
Keempat : Mengusap seluruh kepala beserta kedua telinga.
Kelima : tertib, yaitu melaksanakan rukun-rukun wudu secara berurutan.
Keenam, muwalat (berkesinambungan), yaitu tidak menunda (segera) membasuh anggota wudhu berikutnya sebelum keringnya anggota wudhu yang telah dibasuh sebelumnya.

Adapun niat, tempatnya adalah di dalam hati. Niat merupakan syarat bagi setiap bentuk bersuci yang disyariatkan, seperti wudu dan mandi wajib.


التعليق على العدة شرح العمدة - أسامة سليمان، الجزء  ١ الصحفة ٢ — أسامة سليمان (معاصر)

نواقض الوضوء سبعة؛
 الناقض الأول: الخارج من السبيلين، وينقسم إلى قسمين؛ معتاد ونادر، والمعتاد: هو البول والغائط، والنادر: هو الدود والشعر ودم الاستحاضة والحصى
الناقض الثاني: خروج النجاسات من سائر الجسد
الناقض الثالث: زوال العقل بنوم أو جنون أو إغماء أو سكر، فإذا زال العقل بأي طريق من هذه الطرق انتقض الوضوء
الناقض الرابع: لمس ذكره بيده
الناقض الخامس: أن تمس بشرته بشرة أنثى
الناقض السادس: الردة عن الإسلام
الناقض السابع: أكل لحم الجزور

Artinya : Hal-Hal yang Membatalkan Wudhu' Ada Tujuh (versi madzhab Hambali) :

Pertama: Segala sesuatu yang Keluar dari Dua Jalan (qubul dan dubur)

Sesuatu yang keluar dari qubul dan dubur terbagi menjadi dua macam : yaitu sesuatu yang biasa keluar dan sesuatu yang tidak biasa keluar.

Sesuatu yang biasa keluar adalah air kencing dan tinja. Adapun sesuatu yang tidak biasa keluar adalah cacing, rambut, darah istihadah, dan kerikil.

Kedua: Keluarnya sesuatu yang Najis dari Bagian Tubuh, selain qubul dan dubur.

Ketiga: Hilangnya Akal.

Hilangnya akal dapat disebabkan oleh tidur, gangguan jiwa, pingsan, atau mabuk. Apabila akal hilang karena salah satu sebab tersebut, maka wudhu'nya batal.

Keempat: Menyentuh Kemaluan Sendiri dengan Tangan.

Kelima: Bersentuhannya Kulit laki-laki dengan Kulit Perempuan secara langsung (tanpa penghalang).

Keenam: Murtad atau keluar dari Agama Islam.

Ketujuh: Memakan Daging Unta.


نور الإيضاح ونجاة الأرواح في الفقه الحنفي، الجزء  ١ الصحفة  ٢٠ — الشرنبلالي (ت ١٠٦٩)

فصل في الوضوء
١ -[فرائض الوضوء]
أركان الوضوء أربعة وهي فرائضه؛
١ - الأول: غسل الوجه٠
وحده طولا: من مبدأ سطح الجبهة إلى أسفل الذقن٠
وحده عرضا: ما بين شحمتي الأذنين٠
٢ - والثاني: غسل يديه مع مرفقيه
٣ - والثالث: غسل رجليه مع كعبيه
٤ - والرابع: مسح ربع رأسه٠

Artinya : Pasal tentang Wudhu' (versi madzhab Hanafi) :
1. Fardhu-Fardhu Wudhu :
Rukun wudhu ada empat, yaitu fardu-fardunya sebagai berikut.

1. Rukun pertama : Membasuh wajah.

Batasan wajah secara vertikal adalah dari awal permukaan dahi hingga bagian bawah dagu.

Adapun batas wajah secara horizontal adalah bagian di antara kedua cuping telinga.

2. Rukun kedua: Membasuh kedua tangan beserta kedua sikunya.

3. Rukun ketiga: Membasuh kedua kaki beserta kedua mata kaki.

4. Rukun keempat: Mengusap seperempat bagian kepala.


نور الإيضاح ونجاة الأرواح في الفقه الحنفي،الجزء  ١ الصحفة  ٢٥ — الشرنبلالي (ت ١٠٦٩)

فصل [في نواقض الوضوء]
ينقض الوضوء اثنا عشرة شيئا؛
١ - ما خرج من السبيلين إلا ريح القبل في الأصح٠
٢ - ونجاسة سائلة من غيرهما: كدم وقيح٠
٣ - وينقضه ولادة من غير رؤية دم٠
٤ - وقيء طعام أو ماء أو علق أو مرة إذا ملأ الفم وهو ما لا ينطبق عليه الفم إلا بتكلف على الأصح ويجمع متفرق القيء إذا اتحد سببه٠
٥ - ودم غلب على البزاق أو ساواه٠
٦ - ونوم لم تتمكن فيه المقعدة من الأرض٠
٧ - وارتفاع مقعدة نائم قبل انتباهه وإن لم يسقط في الظاهر٠
٨ - وإغماء٠
٩ - وجنون٠
١٠ - وسكر٠
١١ - وقهقهة بالغ يقظان في صلاة ذات ركوع وسجود ولو تعمد الخروج بها من الصلاة٠
١٢- ومس فرج بذكر منتصب بلا حائل

Artinya : Pasal tentang Hal-Hal yang Membatalkan Wudhu' (versi madzhab Hanafi) : Wudhu' dapat batal karena dua belas hal, yaitu sebagai berikut.

1. Segala sesuatu yang keluar dari qubul dan dubur, kecuali angin yang keluar dari kemaluan depan (farji wanita) menurut pendapat yang lebih sahih.

2. Keluarnya najis yang cair dari selain qubul dan dubur tersebut, seperti darah dan nanah.

3. Melahirkan, meskipun tidak disertai keluarnya darah.

4. Muntah berupa makanan, air, segumpal darah, atau cairan empedu, apabila muntahan tersebut memenuhi mulut. Maksudnya, muntahan itu sedemikian banyak sehingga mulut tidak dapat tertutup dengan mudah, menurut pendapat yang lebih sahih. Muntahan yang keluar secara terpisah-pisah dihukumi sebagai satu kesatuan apabila penyebabnya sama.

5. Darah yang lebih banyak daripada air ludah atau jumlahnya sama dengan air ludah.

6. Tidur dalam keadaan pantat tidak menetap dengan kuat di atas tanah.

7. Terangkatnya pantat orang yang sedang tidur sebelum ia terbangun, meskipun secara lahiriah ia tidak sampai terjatuh.

8. Pingsan.

9. Gila atau hilangnya akal karena gangguan jiwa.

10. Mabuk.

11. Tertawa terbahak-bahak oleh orang yang sudah baligh dan dalam kondisi sadar ketika melaksanakan salat yang memiliki rukuk dan sujud, meskipun ia sengaja tertawa agar keluar dari salatnya.

12. Menyentuh kemaluan wanita (farji) dengan kemaluan laki-laki (dzakar) yang sedang ereksi tanpa penghalang apapun.


والله أعلم بالصواب 

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته 

PENANYA

Nama : Abdussalam
Alamat : Larangan, Pamekasan, Madura
__________________________________

MUSYAWWIRIN

Anggota Grup BM Nusantara (Tanya Jawab Hukum Online)

PENASIHAT

Habib Ahmad Zaki Al-Hamid (Kota Sumenep, Madura)

PENGURUS

Ketua: Ustadz Zainullah Al-Faqih (Umbul Sari, Jember, Jawa Timur)
Wakil: Ustadz Taufik Hidayat (Pegantenan, Pamekasan, Madura)
Sekretaris: Ustadz Moh. Kholil Abdul Karim (Karas, Magetan, Jawa Timur)
Bendahara: Ustadz Supandi (Pegantenan, Pamekasan, Madura)

TIM AHLI

Kordinator Soal: Ustadz Qomaruddin (Umbul Sari, Jember, Jawa Timur), Ustadz Faisol Umar Rozi (Proppo, Pamekasan, Madura) 
Deskripsi Masalah: Ustadz Faisol Umar Rozi (Proppo, Pamekasan, Madura)
Moderator: Ustadz Hosiyanto Ilyas (Jrengik, Sampang, Madura)
Perumus: K.H. Abdurrohim (Maospati, Magetan, Jawa Timur)
Muharrir: Kyai Mahmulul Huda (Bangsal Sari, Jember, Jawa Timur), K.H. Abdurrohim (Maospati, Magetan, Jawa Timur)
Editor: Ustadz Taufik Hidayat (Pegantenan, Pamekasan, Madura)
Terjemah Ibarot : Ustadz Rahmatullah Metuwah (Babul Rahmah, Aceh Tenggara, Aceh), Ustadz Ahmad Marzuki (Cikole, Sukabumi, Jawa Barat), Kyai Muntahal 'Ala Hasbullah (Giligenting, Sumenep, Madura), Gus Robbit Subhan (Balung, Jember, Jawa Timur), Ustadz Ahmad Alfadani (Balongbendo, Sidoarjo, Jawa Timur), Ustadz Abdurrozaq (Wonokerto, Pekalongan, Jawa Tengah),
Mushohhih terjemahan : K.H. Abdurrohim (Maospati, Magetan, Jawa Timur)

________________________________________

Keterangan:

1) Pengurus adalah orang yang bertanggung jawab atas grup ini secara umum.

2) Tim ahli adalah orang yang bertugas atas berjalannya grup ini.

3) Bagi para anggota grup yang memiliki pertanyaan diharuskan untuk menyetorkan soal kepada koordinator soal dengan via japri, yakni tidak diperkenankan -sharing- soal di grup secara langsung.

4) Setiap anggota grup boleh usul atau menjawab walaupun tidak berreferensi. Namun, keputusan tetap berdasarkan jawaban yang berreferensi.

5) Dilarang -posting- iklan/video/kalam-kalam hikmah/gambar yang tidak berkaitan dengan pertanyaan, sebab akan mengganggu berjalannya diskusi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Profil Group BM Nusantara (Tanya Jawab Hukum Online)

Hukum Puasa Ramadhan dan Syawal Tidak Ikut Itsbat (Penetapan) Dari Pemerintah

Hukum Menjilat Farji Istri atau Memasukkan Dzakar ke Dalam Mulut Istri