Hadits yang Menjelaskan Kebolehan Mengqodloi Tanggungan Sholat Orang yang Sudah Meninggal Dunia

HASIL KAJIAN BM NUSANTARA
(Tanya Jawab Hukum Online)

 السلام عليكم و رحمة الله وبركاته

DESKRIPSI

Dalam kitab Fathul Muin terdapat keterangan bahwa “orang yang sudah meninggan dunia dan memiliki tanggungan tanggungan sholat fardlu, maka kerabat atau orang lain boleh mengqodlo sholat yang di tinggalkan al-Marhum semasa hidup”, hal ini karena berdasarkan sebuah riwayat hadis, oleh karena itu imam subuki pernah melakukan sholat qodlo ini untuk kerabatnya. Berikut redaksi dalam kitab Fathul mu’in:

تنبيه من مات وعليه صلاة فرض لم تقض ولم تفد عنه وفي قول أنها تفعل عنه أوصى بها أم لا ما حكاه العبادي عن الشافعي لخبر فيه وفعل به السبكي عن بعض أقاربه

Namun pada praktik yang lumrah dilakukan oleh Masyarakat, sholat itu dikerjakan secara berjama’ah, meski ada pula yang melaksanakan-nya secara sendirian, misalnya saat masih hidup al-Marhum meninggalkan sholat fardlu selama 3 bulan berturut-turut, lalu pihak keluarga meminta bantuan tokoh / pengurus pesantren untuk mengqoldo sholat al-Marhum  selama 3 bulan, secara itung-itungan makan sholat yang ditinggalkan selama 3 bulan ialah sebanyak 450 sholat fardlu, supaya cepat dalam pelaksanaan mqodlo, maka shalat tersebut dilakukan secara berjamaah, dan pihak keluarga biasanya akan memberikan imbalan uang (baik sebelum atau sesudah melakukan sholat qodlo) kepada orang yang melakukan sholat Qodlo untuk anggota kelaurganya yang telah meninggal dunia. 

PERTANYAAN :

Sebenarnya Hadits manakah yang menjelaskan kebolehan mengqodloi tanggungan sholat orang yang sudah meninggal dunia? Lalu bagaimanakah korelasinya, mengingat sholat demikian tidak dilakukan oleh Rasulullah dan para sahabat ?

JAWABAN :

Hadits yang dijadikan hujjah oleh para ulama yang melegalkan mengqodloi sholat yang ditinggalkan mayyit adalah sebagai berikut :

REFERENSI :

نيل الأوطار، الجزء ٨ الصحفة ٢٩٢

٠( عن ابن عباس : { أن سعد بن عبادة استفتى رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال : إن أمي ماتت وعليها نذر لم تقضه ، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم : اقضه عنها } رواه أبو داود والنسائي وهو على شرط الصحيح . قال البخاري : وأمر ابن عمر امرأة جعلت أمها على نفسها صلاة بقباء يعني ثم ماتت ، فقال : صلي عنها قال : وقال ابن عباس نحوه )

Artinya : Diceritakan dari Ibn Abbas : Bahwasanya Sa'ad Ibn 'Ubadah meminta fatwa pada Rasulullah SAW. Lalu Sa'ad berkata : "Sesungguhnya Ibuku telah meninggal dunia dan Dia memiliki nadzar yang belum dipenuhi, maka Rasulullah SAW bersabda : Tunaikanlah nadzar untuknya. Abu Dawud dan Nasa'i telah meriwayatkannya, dan hadits ini memenuhi syarat shahih. Imam Bukhari berkata: Dan Ibn Umar memerintahkan kepada seorang wanita yang ibunya telah bernadzar shalat di masjid Quba, kemudian ibunya meninggal (sebelum menunaikan nadzarnya). Dia (Ibn Umar) berkata: Tunaikanlah Shalat untuknya. Dan Ibn Abbas mengatakan hal yang serupa.


فتح الباري لابن حجر، الجزء ١١ الصحفة ٥٩٢

قَوْلُهُ: (بَابُ مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ نَذْرٌ)، أَيْ: هَلْ يُقْضَى عَنْهُ أَوْ لَا ؟ وَالَّذِي ذَكَرَهُ فِي الْبَابِ يَقْتَضِي الْأَوَّلَ، لَكِنْ هَلْ هُوَ عَلَى سَبِيلِ الْوُجُوبِ أَوِ النَّدْبِ، خِلَافٌ يَأْتِي بَيَانُهُ

Artinya : Perkataan beliau: (Bab tentang seseorang yang meninggal dunia dan masih memiliki nadzar) Yakni : Apakah nadzarnya wajib di laksanakan atau tidak? Dan apa yang beliau sebutkan dalam bab ini mengarah pada kemungkinan yang pertama, namun apakah itu harus dilakukan sebagai kewajiban atau hanya sebagai anjuran ? Maka ada perbedaan pendapat yang akan dijelaskan nanti. 

قَوْلُهُ: (وَأَمَرَ ابْنُ عُمَرَ امْرَأَةً جَعَلَتْ أُمُّهَا عَلَى نَفْسِهَا صَلَاةً بِقُبَاءٍ) يَعْنِي: فَمَاتَتْ، (فَقَالَ: صَلِّي عَنْهَا، وَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ نَحْوَهُ) وَصَلَهُ مَالِكٌ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي بَكْرٍ، أَيِ: ابْنِ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرِو بْنِ حَزْمٍ، عَنْ عَمَّتِهِ أَنَّهَا حَدَّثَتْهُ عَنْ جَدَّتِهِ، أَنَّهَا كَانَتْ جَعَلَتْ عَلَى نَفْسِهَا مَشْيًا إِلَى مَسْجِدِ قُبَاءٍ، فَمَاتَتْ، وَلَمْ تَقْضِهِ، فَأَفْتَى عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبَّاسٍ ابْنَتَهَا أَنْ تَمْشِيَ عَنْهَا، وَأَخْرَجَهُ ابْنُ أَبِي شَيْبَةَ بِسَنَدٍ صَحِيحٍ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ، قَالَ مَرَّةً عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: إِذَا مَاتَ وَعَلَيْهِ نَذْرٌ قَضَى عَنْهُ وَلِيُّهُ، وَمِنْ طَرِيقِ عَوْنِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُتْبَةَ: أَنَّ امْرَأَةً نَذَرَتْ أَنْ تَعْتَكِفَ عَشْرَةَ أَيَّامٍ، فَمَاتَتْ وَلَمْ تَعْتَكِفْ، فَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: اعْتَكِفْ عَنْ أُمِّكَ، وَجَاءَ عَنِ ابْنِ عُمَرَ، وَابْنِ عَبَّاسٍ خِلَافُ ذَلِكَ، فَقَالَ مَالِكٌ فِي الْمُوَطَّأِ: إِنَّهُ بَلَغَهُ أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ كَانَ يَقُولُ: لَا يُصَلِّي أَحَدٌ عَنْ أَحَدٍ، وَلَا يَصُومُ أَحَدٌ عَنْ أَحَدٍ

Perkataan beliau: (Dan Ibnu Umar memerintahkan seorang wanita yang ibunya  telah bernadzar shalat di masjid Quba) yakni kemudian ibunya telah meninggal sebelum menunaikan nadzarnya, (Maka Ibnu Umar berkata : Shalatlah untuknya, dan Ibnu Abbas mengatakan hal yang serupa). Hadits ini diriwayatkan oleh Malik dari Abdullah bin Abi Bakr, yaitu anak dari Muhammad bin Amr bin Hazm, dari bibinya yang menceritakan bahwa neneknya telah bernadzar untuk berjalan ke Masjid Quba, namun ia meninggal sebelum menunaikannya. Maka Abdullah bin Abbas memberikan fatwa kepada putrinya untuk berjalan menggantikan nadzar neneknya. Hal ini juga diriwayatkan oleh Ibn Abi Shaybah dengan sanad yang sahih dari Sa'id bin Jubair, yang berkata: Suatu kali Ibn Abbas mengatakan: 'Jika seseorang meninggal dunia dan masih memiliki nadzar, maka keluarganya yang menggantikan untuk pelaksanaannya.

Dan dari riwayat Aun bin Abdullah bin Uthbah, disebutkan bahwa seorang wanita bernadzar untuk beritikaf selama sepuluh hari, namun ia meninggal dunia sebelum menunaikannya. Maka Ibn Abbas berkata: 'Beritikaflah untuk ibumu. Kemudiam Terdapat perbedaan pendapat antara Ibn Umar dan Ibn Abbas mengenai hal tersebut. Malik dalam Al-Muwatta meriwayatkan bahwa beliau mendengar bahwa Abdullah bin Umar berkata: 'Tidak boleh seseorang shalat untuk orang lain, dan juga tidak boleh seseorang berpuasa untuk orang lain.

وَأَخْرَجَ النَّسَائِيُّ مِنْ طَرِيقِ أَيُّوبَ بْنِ مُوسَى، عَنْ عَطَاءِ بْنِ أَبِي رَبَاحٍ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: لَا يُصَلِّي أَحَدٌ عَنْ أَحَدٍ، وَلَا يَصُومُ أَحَدٌ عَنْ أَحَدٍ، أَوْرَدَهُ ابْنُ عَبْدِ الْبَرِّ مِنْ طَرِيقِهِ مَوْقُوفًا، ثُمَّ قَالَ: وَالنَّقْلُ فِي هَذَا عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ مُضْطَرِبٌ

Dan An-Nasa'i telah meriwayatkan melalui jalan Ayub bin Musa, dari 'Ata' bin Abi Rabah, dari Ibn Abbas yang berkata: 'Tidak boleh seseorang shalat untuk orang lain, dan juga tidak boleh seseorang berpuasa untuk orang lain.' Hal ini juga disampaikan oleh Ibn Abd al-Barr melalui jalurnya dalam bentuk mauquf (perkataan yang bersumber dari seorang sahabat Nabi saw) kemudian beliau berkata: 'Riwayat mengenai hal ini dari Ibn Abbas bersifat tidak konsisten

قُلْتُ: وَيُمْكِنُ الْجَمْعُ بِحَمْلِ الْإِثْبَاتِ فِي حَقِّ مَنْ مَاتَ وَالنَّفْيِ فِي حَقِّ الْحَيِّ، ثُمَّ وَجَدْتُ عَنْهُ مَا يَدُلُّ عَلَى تَخْصِيصِهِ فِي حَقِّ الْمَيِّتِ بِمَا إِذَا مَاتَ وَعَلَيْهِ شَيْءٌ وَاجِبٌ، فَعِنْدَ ابْنِ أَبِي شَيْبَةَ بِسَنَدٍ صَحِيحٍ: سُئِلَ ابْنُ عَبَّاسٍ عَنْ رَجُلٍ مَاتَ وَعَلَيْهِ نَذْرٌ فَقَالَ: يُصَامُ عَنْهُ النَّذْرُ، وَقَالَ ابْنُ الْمُنِيرِ: يَحْتَمِلُ أَنْ يَكُونَ ابْنُ عُمَرَ أَرَادَ بِقَوْلِهِ: صَلِّي عَنْهَا الْعَمَلَ بِقَوْلِهِ ﷺ: إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ، فَعَدَّ مِنْهَا الْوَلَدَ؛ لِأَنَّ الْوَلَدَ مِنْ كَسْبِهِ، فَأَعْمَالُهُ الصَّالِحَةُ مَكْتُوبَةٌ لِلْوَالِدِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَجْرِهِ

Saya (penulis) berkata: "Dan mungkin dapat dijelaskan dengan cara menggabungkan 2 riwayat diatas, yaitu dengan menempatkan riwayat yang mewajibkan sholat untuk orang yang telah meninggal, dan menempatkan riwayat yang melarangnya untuk orang yang masih hidup. Kemudian saya menemukan dari Ibn Abbas yang menunjukkan bahwa hal ini dikhususkan untuk orang yang telah meninggal dan memiliki kewajiban yang harus dilaksanakan. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibn Abi Shaybah dengan sanad yang sahih bahwa : Ibnu Abbas ditanya tentang seorang lelaki yang meninggal dan masih memiliki nadzar, maka beliau berkata: 'Nadzarnya harus di laksanakan untuknya.' Dan Ibn al-Munir berkata: 'Ada kemungkinan bahwa Ibn Umar bermaksud dengan ucapannya: "Shalatkan untuknya" adalah untuk mengikuti sabda Nabi ﷺ: "Jika anak Adam meninggal, maka terputuslah amalannya, kecuali tiga perkara," di antaranya adalah amal anak yang saleh, karena anak tersebut adalah hasil usaha orang tuanya. Oleh karena itu, amal baik yang dilakukan oleh anaknya tetap dicatat sebagai amal baik bagi orang tuanya tanpa mengurangi pahala si anak tersebut.

فَمَعْنَى: صَلِّي عَنْهَا، أَنَّ صَلَاتَكِ مُكْتَتَبَةٌ لَهَا، وَلَوْ كُنْتِ إِنَّمَا تَنْوِي عَنْ نَفْسِكِ كَذَا قَالَ، وَلَا يَخْفَى تَكَلُّفُهُ، وَحَاصِلُ كَلَامِهِ تَخْصِيصُ الْجَوَازِ بِالْوَلَدِ، وَإِلَى ذَلِكَ جَنَحَ ابْنُ وَهْبٍ، وَأَبُو مُصْعَبٍ مِنْ أَصْحَابِ الْإِمَام مَالِكٍ، وَفِيهِ تَعَقُّبٌ عَلَى ابْنِ بَطَّالٍ حَيْثُ نَقَلَ الْإِجْمَاعَ أَنَّهُ لَا يُصَلِّي أَحَدٌ عَنْ أَحَدٍ لَا فَرْضًا وَلَا سُنَّةً لَا عَنْ حَيٍّ وَلَا عَنْ مَيِّتٍ، وَنُقِلَ عَنِ الْمُهَلَّبِ أَنَّ ذَلِكَ لَوْ جَازَ لَجَازَ فِي جَمِيعِ الْعِبَادَاتِ الْبَدَنِيَّةِ، وَلَكَانَ الشَّارِعُ أَحَقَّ بِذَلِكَ أَنْ يَفْعَلَهُ عَنْ أَبَوَيْهِ، وَلَمَا نُهِيَ عَنِ الِاسْتِغْفَارِ لِعَمِّهِ، وَلَبَطَلَ مَعْنَى قَوْلِهِ: ﴿وَلا تَكْسِبُ كُلُّ نَفْسٍ إِلا عَلَيْهَا﴾ انْتَهَى. وَجَمِيعُ مَا قَالَ لَا يَخْفَى وَجْهُ تَعَقُّبِهِ خُصُوصًا مَا ذَكَرَهُ فِي حَقِّ الشَّارِعِ، وَأَمَّا الْآيَةُ فَعُمُومُهَا مَخْصُوصٌ اتِّفَاقًا، وَاللَّهُ أَعْلَمُ

Maka maksud dari ucapan Ibnu Umar : 'Shalatkan untuknya' adalah bahwa shalatmu tercatat untuknya, meskipun niatmu hanyalah untuk dirimu sendiri. Seperti itulah yang beliau katakan, dan jelas di sini terdapat unsur memaksakan diri dalam pemahaman tersebut. Inti dari perkataannya adalah membatasi kebolehan sholat tersebut hanya untuk anak (keturunan), dan pendapat ini dipegang oleh Ibn Wahb dan Abu Mus'ab dari kalangan Sahabat Imam Malik. Dalam hal ini, terdapat kritik terhadap apa yang dikatakan oleh Ibn Battal yang menyatakan ijma' (kesepakatan) bahwa tidak boleh seseorang shalat untuk orang lain, baik itu shalat fardhu atau sunnah, baik untuk orang yang hidup maupun yang mati. 

Diriwayatkan dari al-Muhallab bahwa jika hal ini dibolehkan, maka itu akan berlaku untuk semua ibadah fisik, dan seharusnya Baginda Nabi saw yang paling berhak melakukannya untuk kedua orang tuanya. Selain itu, hal ini bertentangan dengan larangan Nabi untuk memohonkan ampunan bagi pamannya. Dan akan batal makna dari ayat: وَلا تَكْسِبُ كُلُّ نَفْسٍ إِلَّا عَلَيْهَا (Dan setiap jiwa tidak memikul kecuali beban yang ada padanya). Selesai. Semua yang dikatakan ini jelas mempunyai sisi kritik, terutama mengenai apa yang disebutkan terkait dengan syari'at, dan mengenai ayat tersebut, maknanya umum tetapi ada pengecualiannya yang disepakati. Dan Allah Maha Tahu.


إحكام الإحكام شرح عمدة الحكام، الجزء ٢ الصحفة ٤٠٩

الحديث الثامن : عن عبد الله بن عباس رضي الله عنهما قال { جاء رجل إلى النبي صلى الله عليه وسلم فقال : يا رسول الله ، إن أمي ماتت وعليها صوم شهر . أفأقضيه عنها ؟ فقال : لو كان على أمك دين أكنت قاضيه عنها ؟ قال : نعم٠  قال : فدين الله أحق أن يقضى}٠

Artinya : Hadits kedelapan: Dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu anhuma, beliau berkata: "Seorang lelaki datang kepada Nabi SAW dan berkata: 'Ya Rasulullah, ibuku telah meninggal dunia dan dia memiliki kewajiban puasa sebulan. Apakah saya boleh menggantikan puasa untuknya?' Nabi SAW menjawab: 'Jika ibumu memiliki utang, apakah kamu akan membayarkannya untuknya?' Dia menjawab: 'Ya. Lalu Baginda Nabi SAW bersabda: 'Maka utang kepada Allah swt itu lebih layak untuk wajjb dibayar.

وفي رواية { جاءت امرأة إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم فقالت : يا رسول الله ، إن أمي ماتت وعليها صوم نذر . أفأصوم عنها ؟ فقال : أرأيت لو كان على أمك دين فقضيتيه ، أكان ذلك يؤدي عنها ؟ فقالت : نعم . قال : [ ص: 409 ] فصومي عن أمك }٠

Dan dalam riwayat lain disebutkan: "Seorang wanita datang kepada Rasulullah SAW dan berkata: 'Ya Rasulullah, ibuku telah meninggal dan dia memiliki puasa nadzar yang belum dilaksanakan. Apakah saya boleh berpuasa untuknya?' Nabi SAW bertanya: 'Bagaimana menurutmu kamu, jika ibumu memiliki utang dan kamu membayarnya, apakah itu akan membayar utangnya?' Wanita itu menjawab: 'Ya.' Nabi SAW berkata: 'Maka berpuasalah untuk ibumu.


والله أعلم بالصواب

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

PENANYA 

Nama : Robit Subhan
Alamat : Balung, Jember, Jawa Timur
__________________________________

MUSYAWWIRIN

Anggota Grup BM Nusantara (Tanya Jawab Hukum Online)

PENASIHAT

Habib Ahmad Zaki Al-Hamid (Kota Sumenep, Madura)

PENGURUS

Ketua: Ustadz Zainullah Al-Faqih (Umbul Sari, Jember, Jawa Timur)
Wakil: Ustadz Taufik Hidayat (Pegantenan, Pamekasan, Madura)
Sekretaris: Ustadz Moh. Kholil Abdul Karim (Karas, Magetan, Jawa Timur)
Bendahara: Ustadz Supandi (Pegantenan, Pamekasan, Madura)

TIM AHLI

Kordinator Soal: Ustadz Qomaruddin (Umbul Sari, Jember, Jawa Timur), Ustadz Faisol Umar Rozi (Proppo, Pamekasan, Madura) 
Deskripsi Masalah: Ustadz Faisol Umar Rozi (Proppo, Pamekasan, Madura)
Moderator: Ustadz Hosiyanto Ilyas (Jrengik, Sampang, Madura)
Perumus: Lusy Windari (Jatilawang, Banyumas, Jawa Tengah)
Muharrir: Kyai Mahmulul Huda (Bangsal Sari, Jember, Jawa Timur), K.H. Abdurrohim (Maospati, Magetan, Jawa Timur)
Editor: Ustadz Taufik Hidayat (Pegantenan, Pamekasan, Madura)
Terjemah Ibarot : K.H. Abdurrohim (Maospati, Magetan, Jawa Timur)
Mushohhih terjemahan : K.H. Abdurrohim (Maospati, Magetan, Jawa Timur)

________________________________________

Keterangan:

1) Pengurus adalah orang yang bertanggung jawab atas grup ini secara umum.

2) Tim ahli adalah orang yang bertugas atas berjalannya grup ini.

3) Bagi para anggota grup yang memiliki pertanyaan diharuskan untuk menyetorkan soal kepada koordinator soal dengan via japri, yakni tidak diperkenankan -sharing- soal di grup secara langsung.

4) Setiap anggota grup boleh usul atau menjawab walaupun tidak berreferensi. Namun, keputusan tetap berdasarkan jawaban yang berreferensi.

5) Dilarang -posting- iklan/video/kalam-kalam hikmah/gambar yang tidak berkaitan dengan pertanyaan, sebab akan mengganggu berjalannya diskusi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Profil Group BM Nusantara (Tanya Jawab Hukum Online)

Hukum Penyembelihan Hewan Dengan Metode Stunning Terlebih Dahulu Halalkah ?

Hukum Menjilat Farji Istri atau Memasukkan Dzakar ke Dalam Mulut Istri