Sholat Tarawih Dengan Bacaan Kilat

HASIL KAJIAN BM NUSANTARA
(Tanya Jawab Hukum Online)

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

DESKRIPSI

Menjelang bulan Ramadan, suasana di masjid semakin hidup. Setiap malam, suara bacaan Al-Qur'an bergema, dan para jamaah sibuk mempersiapkan diri menyambut bulan suci. Tahun ini, Huzaifah mendapat tugas sebagai imam salat tarawih di masjid desanya.

Meskipun hafalannya kuat, Huzaifah ingin memastikan bacaannya benar. Ia meminta temannya, aiman, untuk menyimaknya dengan memegang mushaf saat ia memimpin salat.

Malam pertama tarawih pun tiba. Masjid penuh dengan jamaah yang bersemangat. Namun, saat Huzaifah mulai memimpin salat, ia membaca dengan sangat cepat. Ayat-ayat mengalir begitu deras hingga sulit dipahami oleh makmum.

PERTANYAAN :

Sahkah sholat teraweh Huzaifah dan makmumnya asbab dari bacaan cepatnya Huzaifah ?

JAWABAN :

Hukum sholat taraweh imam tersebut adalah sah kecuali terdapat lahn (salah baca) yang sampai merubah arti dengan disengaja atau dengan tidak disengaja namun tidak mengulangi bacaan dengan cara yang benar. Apabila terjadi kesalahan baca yang tidak sampai merubah arti, maka tidak batal namun haram menyengajanya.

Adapun hukum sholat taraweh makmum adalah sah jika taraweh imam sah, jika sholat imam tidak sah maka sholat makmum sah jika  melakukan mufaroqoh (memisahkan diri dari imam).

REFERENSI :

المجموع شرح المهذب، الجزء ٣ الصحفة ٣ الصحفة ٣٩٣

٠(الثالثا) إذَا لَحَنَ فِي الْفَاتِحَةِ لَحْنًا يُخِلُّ الْمَعْنَى بِأَنْ ضَمَّ تَاءَ أَنْعَمْتَ أَوْ كَسَرَهَا أَوْ كَسَرَ كَافَ إيَّاكَ نَعْبُدُ أَوْ قَالَ إيَّاءَ بِهَمْزَتَيْنِ لَمْ تَصِحَّ قِرَاءَتُهُ وَصَلَاتُهُ إنْ تَعَمَّدَ وَتَجِبُ إعَادَةُ الْقِرَاءَةِ إنْ لَمْ يَتَعَمَّدْ وَإِنْ لَمْ يُخِلَّ الْمَعْنَى كَفَتْحِ دَالِ نَعْبُدُ وَنُونِ نَسْتَعِينُ وَصَادِ صِرَاطَ وَنَحْوِ ذَلِكَ لَمْ تَبْطُلْ صَلَاتُهُ وَلَا قِرَاءَتُهُ وَلَكِنَّهُ مَكْرُوهٌ وَيَحْرُمُ تَعَمُّدُهُ وَلَوْ تَعَمَّدَهُ لَمْ تَبْطُلْ قِرَاءَتُهُ وَلَا صَلَاتُهُ هَذَا هُوَ الصَّحِيحُ وَبِهِ قَطَعَ الْجُمْهُورُ وَفِي التَّتِمَّةِ وَجْهٌ أَنَّ اللَّحْنَ الَّذِي لَا يُخِلُّ الْمَعْنَى لَا تَصِحُّ الصَّلَاةُ مَعَهُ

(Ketiga) Jika seseorang melafalkan Al-Fatihah dengan kesalahan yang mengubah makna, seperti menggabungkan huruf 'ta' pada kata 'an’amta' (أَنْعَمْتَ), atau merubahnya menjadi kasrah, atau mengubah kasrah pada huruf 'kaaf' dalam kata 'iyyaka' (إِيَّاكَ نَعْبُدُ), atau mengucapkan 'iyyā' dengan dua hamzah, maka bacaan dan shalatnya tidak sah jika dia sengaja melakukan kesalahan tersebut. Dan wajib mengulang bacaan jika tidak sengaja. Namun, jika kesalahan tersebut tidak mengubah makna, seperti memfathah 'daal' pada kata 'na’budu' (نَعْبُدُ), atau 'nun' pada 'nasta’in' (نَسْتَعِينُ), atau 'shaad' pada 'siraat' (صِرَاطَ), dan sebagainya, maka salat dan bacaannya tidak batal, tetapi tetap makruh. Dan haram jika sengaja dilakukan. Jika sengaja dilakukan, meskipun tidak membatalkan bacaan atau shalatnya, namun ini adalah hal yang salah. Ini adalah pendapat yang benar, dan ini adalah pendapat mayoritas ulama. Dalam penjelasannya, ada pendapat lain yang mengatakan bahwa shalat tidak sah dengan kesalahan yang tidak mengubah makna.


إعانة الطالبين، الجزء ٢ الصحفة ٥٣

قوله: ولاحن بما لا يغير معنى أي وكره اقتداء بلاحن بما لا يغير المعنى .ويحرم تعمده مع صحة الصلاة والقدوة. (والحاصل) أن اللحن حرام على العامد العالم القادر مطلقا، وأن ما لا يغير المعنى لا يضر في صحة الصلاة والقدوة مطلقا، وأما ما يغير المعنى ففي غير الفاتحة لا يضر فيهما إلا إن كان عامدا عالما قادرا، وأما في الفاتحة فإن قدر وأمكنه التعلم ضر فيهما، وإلا فكأمي

Artinya : (Ucapannya: Dan orang yang salah bacaannya yang tidak merubah makna), yakni makruh bermakmum kepadanya dengan bacaan yang tidak merubah makna. Dan haram sengaja melakukan kesalahan disertai sah sholat dan bermakmum. (Al-hasil) sesungguhnya salah bacaan (اللحن) hukumnya haram mutlak bagi orang yang sengaja, mengetahui, dan mampu (untuk merubahnya), dan sesungguhnya bacaan yang tidak merubah pada maknanya, maka tidak mempengaruhi sah sholat dan bermakmum secara mutlak. Dan adapun bacaan yang merubah makna pada selain bacaan fatihah maka tidak berpengaruh dalam sah sholat dan bermakmum, kecuali bagi orang yang sengaja, mengetahui, dan mampu (merubahnya). Adapun didalam bacaan Fatihah, jika mampu merubahnya dan memungkinkan untuk belajar maka mempengaruhi keabsahan sholat dan bermakmum, namun apabila tidak, maka status hukumnya seperti Ummi.


اعانة الطالبين، الجزء ١ الصحفة ١٦٣

السادس: مراعاة التشديدات، فلو خفف مشددا من الأربع عشرة لم تصح قراءته لتلك الكلمة
السابع: رعاية حروفها، فلو أسقط منها حرفا، ولو همزة قطع، وجبت إعادة الكلمة التي هو منها وما بعدها قبل طول الفصل وركوع وإلا بطلت صلاته
الثامن: عدم اللحن المغير للمعنى

Artinya : Ke-enam: Memperhatikan harakat yang ditekankan. Jika seseorang meremehkan harakat yang ditekankan dari empat belas huruf yang penting, maka bacaannya untuk kata tersebut tidak sah.

Ke-tujuh: Memperhatikan huruf-hurufnya. Jika seseorang menghilangkan satu huruf dari kata, bahkan jika itu adalah hamzah qath' (hamzah yang selalu dibaca baik di awal atau tengah kata), maka dia wajib mengulang kata tersebut beserta kata berikutnya sebelum adanya jeda panjang dan rukuk, jika tidak, maka shalatnya batal.

Ke-delapan: Tidak melakukan kesalahan dalam lafalan yang mengubah makna.


اعانة الطالبين، الجزء ١ الصحفة ١٦٤

٠(قوله: فإن تعمد ذلك وعلم تحريمه) كل من اسم الإشارة والضمير يعود على المذكور من الابدال واللحن. وقوله: بطلت صلاته ظاهره مطلقا، ولو لم يتغير المعنى في صورة الابدال. وفي فتح الجواد تقييد بطلان الصلاة بالمغير، ونص عبارته: فإن خفف القادر، أو العاجز المقصر، مشددا أو أبدل حرفا بآخر، كضاد بظاء وذال الذين المعجمة بالمهملة، خلافا للزركشي ومن تبعه، أو لحن لحنا يغير المعنى كضم تاء أنعمت أو كسرها، فإن تعمد ذلك وعلم تحريمه بطلت صلاته في المغير للمعنى، وقراءته في الابدال الذي لم يغير. اه‍

Artinya : (Perkataannya : Jika dia sengaja melakukannya dan mengetahui haramnya) menunjukkan bahwa baik kata ganti maupun kata tunjuk merujuk pada yang telah disebutkan sebelumnya, yaitu perubahan (pergantian huruf) dan kesalahan dalam pelafalan (lahn). Dan kalimat 'shalatnya batal' secara zahirnya berlaku mutlak, meskipun makna tidak berubah dalam kasus pergantian huruf. Dalam kitab Fath al-Jawad, penjelasan tentang batalnya shalat ini dibatasi pada kasus yang mengubah makna. Berikut kutipan lengkapnya: 'Jika orang yang mampu atau yang kurang mampu (karena kelemahan dan tidak cukup berusaha) meremehkan harakat yang ditekankan atau mengganti satu huruf dengan huruf lain, seperti mengganti huruf dhod dengan zha' atau dzal dengan zal yang diucapkan dengan zal, berbeda dengan syekh Zarkasyi dan pengikutnya, atau melakukan kesalahan yang mengubah makna, seperti membaca dhommah ta' dalam kata an’amta atau mengubahnya menjadi kasrah, maka jika dia sengaja melakukan hal tersebut dan mengetahui haramnya, shalatnya batal di dalam perubahan makna, dan bacaannya batal dalam kasus pergantian huruf yang tidak mengubah makna.

٠(قوله: وإلا فقراءته) أي وإن يعلم ولم يتعمد ذلك فتبطل قراءته، أي لتلك الكلمة. وفي ع ش ما نصه: فرع: حيث بطلت القراءة دون الصلاة فمتى ركع عمدا قبل إعادة القراءة على الصواب بطلت صلاته كما هو ظاهر، فليتأمل. سم على منهج

(Perkataannya : Dan apabila tidak, maka bacaannya) artinya, jika seseorang mengetahui tetapi tidak dengan sengaja melakukan kesalahan tersebut, maka bacaan (tersebut) batal, yaitu bacaan untuk kata tersebut. Dan dalam Ali Asy-Syabromalli disebutkan, yang teksnya adalah: Cabang: sekiranya bacaan batal tetapi tidak pada shalat, maka apabila ia ruku' dengan sengaja sebelum memperbaiki bacaan yang benar, shalatnya menjadi batal, sebagaimana yang jelas, maka hendaknya diperhatikan. Ibnu Qosim Al-‘Abbadi dalam kitab manhaj. 


حاشية البجيرمى على الخطيب، الجزء ٢ الصحفة ١٤٤-١٤٥

وَكُرِهَ الِاقْتِدَاءُ بِنَحْوِ تَأْتَاءٍ كَفَأْفَاءٍ وَلَاحِنٍ بِمَا لَا يُغَيِّرُ الْمَعْنَى كَضَمِّ هَاءِ لِلَّهِ، فَإِنْ غَيَّرَ مَعْنًى فِي الْفَاتِحَةِ كَأَنْعَمْت بِضَمٍّ أَوْ كَسْرٍ وَلَمْ يُحْسِنْ اللَّاحِنُ الْفَاتِحَةَ فَكَأُمِّيٍّ فَلَا يَصِحُّ اقْتِدَاءُ الْقَارِئِ بِهِ -الى ان قال- أَمَّا الْقَادِرُ الْعَالِمُ الْعَامِدُ فَلَا تَصِحُّ صَلَاتُهُ وَلَا الْقُدْوَةُ بِهِ لِلْعَالِمِ بِحَالِهِ وَكَالْفَاتِحَةِ فِيمَا ذُكِرَ بَدَلَهَا

Artinya : Makruh bermakmum kepada Imam yang gagap dan salah bacaannya yang tidak merubah makna, seperti dibaca dlommah ha'nya lafazh Lillah, namun apabila merubah makna di dalam fatihah, seperti lafazh an-'amta dengan mendlommahkan atau mengkasrohkan ta'nya dan tidak bisa membaguskan atau  memperbaiki fatihahnya, maka seolah-olah Dia seperti Ummi, maka dalam hal ini Qori' tidak sah bermakmum kepada Ummi -sampai pada perkataan- adapun yang mampu, mengetahui, dan menengaja maka tidak sah sholatnya dan tidak pula bermakmumnya kepada Imam Ummi bagi Makmun yang tahu keadaan Imam yang Ummi. Dan seperti bacaan fatihah berlaku pula penggantinya.


بغية المسترشدين، الصحفة ١٢١

٠(فَائِدَةٌ) قَالَ فِيْ كَشْفِ النِّقَابِ وَالْحَاصِلُ أَنَّ قَطْعَ الْقُدْوَةِ تَعْتَرِيْهِ اْلأَحْكَامُ الْخَمْسَةُ وَاجِباً كَأَنْ رَأَى إِمَامَهُ مُتَلَبِّسًا بِمُبْطِلٍ وَسُنَّةٍ لِتَرْكِ اْلإِمَامِ سُنَّةً مَقْصُوْدَةً وَمُبَاحًا كَأَنْ طَوَّلَ اْلإِمَامُ وَمَكْرُوْهاً مُفَوِّتاً لِفَضِيْلَةِ الْجَمَاعَةِ إِنْ كَانَ لِغَيْرِ عُذْرٍ وَحَرَاماً إِنْ تَوَقَّفَ الشِّعَارُ عَلَيْهِ أَوْ وَجَبَتِ الْجَمَاعَةُ كَالْجُمْعَةِ اهـ

Artinya : (Faedah) Dikatakan dalam Kasyf al-Niqab, bahwa hukum yang berkaitan dengan memutuskan hubungan dengan imam mencakup lima hukum:

Wajib jika dia melihat imamnya melakukan hal yang membatalkan (ibadah) atau sunnah yang ditinggalkan oleh imam. Sunnah jika imam meninggalkan sunnah yang dimaksudkan. Mubah jika imam memperpanjang waktu atau melakukan hal yang tidak melanggar. Makruh jika imam menunda shalat sehingga mengurangi keutamaan berjamaah, kecuali jika ada uzur (halangan). Haram jika kegiatan tersebut mengganggu simbol-simbol syiar atau jika shalat berjamaah itu wajib, seperti pada shalat Jumat.

والله أعلم بالصواب

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

PENANYA 

Nama : Miftah 
Alamat : Kelantan, Malaysia
__________________________________

MUSYAWWIRIN

Anggota Grup BM Nusantara (Tanya Jawab Hukum Online)

PENASIHAT

Habib Ahmad Zaki Al-Hamid (Kota Sumenep, Madura)

PENGURUS

Ketua: Ustadz Zainullah Al-Faqih (Umbul Sari, Jember, Jawa Timur)
Wakil: Ustadz Taufik Hidayat (Pegantenan, Pamekasan, Madura)
Sekretaris: Ustadz Moh. Kholil Abdul Karim (Karas, Magetan, Jawa Timur)
Bendahara: Ustadz Supandi (Pegantenan, Pamekasan, Madura)

TIM AHLI

Kordinator Soal: Ustadz Qomaruddin (Umbul Sari, Jember, Jawa Timur), Ustadz Faisol Umar Rozi (Proppo, Pamekasan, Madura) 
Deskripsi Masalah: Ustadz Faisol Umar Rozi (Proppo, Pamekasan, Madura)
Moderator: Ustadz Hosiyanto Ilyas (Jrengik, Sampang, Madura)
Perumus: Lusy Windari (Jatilawang, Banyumas, Jawa Tengah)
Muharrir: Kyai Mahmulul Huda (Bangsal Sari, Jember, Jawa Timur), K.H. Abdurrohim (Maospati, Magetan, Jawa Timur)
Editor: Ustadz Taufik Hidayat (Pegantenan, Pamekasan, Madura)
Terjemah Ibarot : Kyai Mahmulul Huda (Bangsal Sari, Jember, Jawa Timur)
Mushohhih terjemahan : K.H. Abdurrohim (Maospati, Magetan, Jawa Timur)

________________________________________

Keterangan:

1) Pengurus adalah orang yang bertanggung jawab atas grup ini secara umum.

2) Tim ahli adalah orang yang bertugas atas berjalannya grup ini.

3) Bagi para anggota grup yang memiliki pertanyaan diharuskan untuk menyetorkan soal kepada koordinator soal dengan via japri, yakni tidak diperkenankan -sharing- soal di grup secara langsung.

4) Setiap anggota grup boleh usul atau menjawab walaupun tidak berreferensi. Namun, keputusan tetap berdasarkan jawaban yang berreferensi.

5) Dilarang -posting- iklan/video/kalam-kalam hikmah/gambar yang tidak berkaitan dengan pertanyaan, sebab akan mengganggu berjalannya diskusi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Profil Group BM Nusantara (Tanya Jawab Hukum Online)

Hukum Penyembelihan Hewan Dengan Metode Stunning Terlebih Dahulu Halalkah ?

Hukum Menjilat Farji Istri atau Memasukkan Dzakar ke Dalam Mulut Istri