Apakah Tindakan Meledakkan Diri Sendiri dalam Kerumunan Musuh Termasuk Kategori Jihad yang Sah atau Dibenarkan ?

HASIL KAJIAN BM NUSANTARA
(Tanya Jawab Hukum Online)

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

DESKRIPSI :

Reem Al-Riyashi adalah seorang wanita Palestina berusia 22 tahun yang melakukan aksi bom bunuh diri pada tanggal 14 Januari 2004 di perbatasan Erez, jalur Gaza. Pada pagi hari tanggal 14 Januari, Reem meninggalkan rumah dan kedua anaknya yang masih balita. Hal yang paling mengejutkan dari hal ini adalah peran suaminya, Ziyad Awwad. Ziyad dilaporkan tidak hanya mengetahui rencana tersebut, tetapi juga berperan dalam mempersiapkan logistik dan mengantarkan istrinya sendiri ke titik sasaran di perbatasan Gaza-Israel. Reem dianggap sebagai pejuang wanita ketujuh yang melakukan bom bunuh diri dalam Intifada Al-Aqsa. Bom yang dibawa Reem itu cukup kuat hingga menghancurkan bangunan, dan ledakan tersebut menewaskan 4 orang Israel (3 tentara dan 1 warga sipil) serta melukai setidaknya 10 orang lainnya. Reem Al-Riyashi tewas seketika di lokasi kejadian dan menjadi perbincangan hangat pada saat itu. 

PERTANYAAN :

3. Apakah tindakan meledakkan diri sendiri termasuk kategori Jihad yang sah atau dibenarkan?, ataukah termasuk bunuh diri yang dikecam dan dilarang keras dalam Al-Qur'an ?

JAWABAN :

Tindakan bom bunuh diri sebagaimana kronologi pada deskripsi yang terjadi di Palestina di atas adalah boleh dan diharapkan pelaku dicatat sebagi syahid selama niatnya murni dalam rangka membela agama dan atau negara serta tidak impulsif (bom bunuh tanpa ada manfaat). Adapun Negara-negara lain yang bukan seperti Palestina (bukan status jihad defensif) maka tidak dibenarkan melakukan "istisyhad" selama cara lain ada. 

REFERENSI :

تفسير القرطبي، الجزء ٢ الصحفة ٣٦٣ - ٣٦٤

اختلف العلماء في اقتحام الرجل في الحرب وحمله على العدو وحده، فقال القاسم بن مخيمرة والقاسم بن محمد وعبد الملك من علمائنا: لا بأس أن يحمل الرجل وحده على الجيش العظيم إذا كان فيه قوة، وكان لله بنية خالصة، فإن لم تكن فيه قوة فذلك من التهلكة. وقيل: إذا طلب الشهادة وخلصت النية فليحمل، لأن مقصوده واحد منهم، وذلك بين في قوله تعالى:" ومن الناس من يشري نفسه ابتغاء مرضات الله" «٥» [البقرة: ٢٠٧]٠

Artinya : Para ulama berbeda pendapat mengenai tindakan seseorang yang menerobos ke medan perang dan menyerang musuh seorang diri.

Syekh Qasim bin Mukhaymirah, Qasim bin Muhammad, dan Abdul Malik dari kalangan para ulama kami (madzhab maliki) berpendapat bahwa tidak mengapa seseorang menyerang sendirian ke tengah pasukan besar apabila ia memiliki kekuatan dan niat yang tulus karena Allah. Namun, jika ia tidak memiliki kekuatan, maka tindakan tersebut termasuk perbuatan yang membinasakan diri sendiri.

Tapi ada pendapat lain yang menyatakan bahwa apabila seseorang menginginkan kesyahidan dan niatnya benar-benar ikhlas, maka silahkan ia maju untuk menyerang, karena tujuannya adalah menyerang salah satu dari mereka. Hal ini ditegaskan dalam firman Allah Ta‘ala: "Dan di antara manusia ada yang menjual dirinya untuk mencari keridaan Allah." (QS. Al-Baqarah: 207)

وقال ابن خويز منداد: فأما أن يحمل الرجل على مائة أو على جملة العسكر أو جماعة اللصوص والمحاربين والخوارج فلذلك حالتان: إن علم او غلب على ظنه أنه سيقتل من حمل عليه وينجو فحسن، وكذلك لو علم وغلب على ظنه أن يقتل ولكن سينكى نكاية أو سيبلى أو يؤثر أثرا ينتفع به المسلمون فجائز أيضا. وقد بلغني أن عسكر المسلمين لما لقي الفرس نفرت خيل المسلمين من الفيلة، فعمد رجل منهم فصنع فيلا من طين وأنس به فرسه حتى ألفه، فلما أصبح لم ينفر فرسه من الفيل فحمل على الفيل الذي كان يقدمها فقيل له: إنه قاتلك. فقال: لا ضير أن أقتل ويفتح للمسلمين

Sedangkan Syekh Ibnu Khuwaiz Mindad berkata: "Adapun seorang diri yang menyerang seratus orang, atau seluruh pasukan, atau sekelompok perampok/pencuri, kaum pemberontak, dan kaum Khawarij, maka dalam hal itu terdapat dua keadaan:

Jika ia meyakini atau besar dugaan (prasangkanya) bahwa ia akan dapat membunuh orang-orang yang dia serang dan dia selamat, maka itu adalah perbuatan yang baik. Demikian pula jika ia meyakini atau besar dugaannya bahwa ia akan terbunuh, tetapi ia akan memberikan pukulan yang berarti, menimbulkan kerugian pada musuh, atau meninggalkan pengaruh yang memberi manfaat bagi kaum Muslimin, maka hal itu juga diperbolehkan.

Telah sampai kepadaku suatu kisah bahwa ketika pasukan kaum Muslimin berhadapan dengan pasukan Persia, maka kuda-kuda kaum Muslimin lari ketakutan sebab gajah-gajah perang mereka. Maka salah seorang dari mereka membuat seekor gajah dari tanah liat dan melatih kudanya agar terbiasa dengannya hingga tidak lagi takut. Ketika pagi tiba, kudanya tidak lagi gentar terhadap gajah. Lalu ia menyerang gajah yang berada di barisan depan. Orang-orang berkata kepadanya, “Sesungguhnya (tindakan itu) akan membunuhmu.”

Maka ia menjawab, “Tidak mengapa aku terbunuh asalkan kemenangan bisa diraih oleh kaum Muslimin.”

وكذلك يوم اليمامة لما تحصنت بنو حنيفة بالحديقة، قال رجل «١» من المسلمين: ضعوني في الحجفة «٢» وألقوني إليهم، ففعلوا وقاتلهم وحده وفتح الباب. قلت: ومن هذا ما روي أن رجلا قال للنبي صلى الله عليه وسلم: أرأيت إن قتلت في سبيل الله صابرا محتسبا؟ قال: (فلك الجنة). فانغمس في العدو حتى قتل

Demikian pula pada Perang Yamamah, ketika Bani Hanifah berlindung dan bertahan di dalam kebun mereka yang di kelilingi benteng, maka seorang lelaki dari kaum Muslimin berkata, “Masukkan aku ke dalam perisai besar (seperti perisai bundar), lalu lemparkan aku ke arah mereka.” Maka mereka pun melakukannya. Ia memerangi mereka seorang diri hingga dia berhasil membuka pintu benteng. 

Aku berkata: Termasuk dalam hal ini adalah riwayat tentang seorang lelaki yang berkata kepada Baginda Nabi ﷺ, “Bagaimana pendapatmu jika aku terbunuh di jalan Allah dengan sabar dan mengharap pahala?” Beliau menjawab, “Bagimu surga.” Maka lelaki itu pun menerjang ke tengah-tengah musuh hingga akhirnya terbunuh.

وفي صحيح مسلم عن أنس بن مالك أن رسول الله صلى الله عليه وسلم أفرد «٣» يوم أحد في سبعة من الأنصار ورجلين من قريش، فلما رهقوه «٤» قال: (من يردهم عنا وله الجنة) أو (هو رفيقي في الجنة) فتقدم رجل من الأنصار فقاتل حتى قتل. [ثم رهقوه أيضا فقال: (من يردهم عنا وله الجنة) أو (هو رفيقي في الجنة). فتقدم رجل من الأنصار فقاتل حتى قتل «٥» [. فلم يزل كذلك حتى قتل السبعة، فقال النبي صلى الله عليه وسلم: (ما أنصفنا أصحابنا)

Dan dalam Shahih Muslim, dari Anas bin Malik, disebutkan bahwa Baginda Rosululloh ﷺ di saat Perang Uhud terpisah bersama tujuh orang dari kaum Anshar dan dua orang dari kaum Quraisy. Ketika musuh telah mendekati dan mengepung mereka, beliau bersabda, “Ayo siapa di antara kalian yang siap mengusir mereka demi membela kami, maka baginya surga,” atau “Dia akan menjadi pendampingku di surga.”

Maka seorang lelaki dari kaum Anshar maju dan menggembirakan mereka hingga ia gugur. Kemudian ketika musuh kembali mendekat, maka beliau bersabda lagi, “Siapa yang siap mengusir mereka demi membela kami, maka baginya surga,” atau “Dia akan menjadi pendampingku di surga.” Maka seorang lelaki dari kaum Anshar kembali maju dan menggempur hingga ia gugur. Demikianlah terus terjadi hingga ketujuh orang tersebut gugur semua. Lalu Baginda Nabi ﷺ bersabda, “Kita belum berlaku adil terhadap sahabat-sahabat kita.”

هكذا الرواية (أنصفنا) بسكون الفاء (أصحابنا) بفتح الباء، أي لم ندلهم «٦» للقتال حتى قتلوا. وروي بفتح الفاء ورفع الباء، ووجهها أنها ترجع لمن فر عنه من أصحابه، والله أعلم

Demikianlah riwayatnya dengan lafaz (أنصفنا) dengan di sukun huruf fa’nya, dan (أصحابنا) dengan di baca fathah huruf ba’nya, yang berarti: kami tidak memberikan mereka giliran (atau kesempatan yang seimbang) dalam pertempuran hingga mereka terbunuh.

Diriwayatkan pula dengan di baca fathah pada fa’ dan ba’ nya di baca rofa‘. Dan penafsiran dalam bentuk ini adalah bahwa maknanya kembali kepada orang-orang dari kalangan sahabat yang lari meninggalkan Baginda Nabi saw. Wallāhu a‘lam (Allah lebih mengetahui).

وقال محمد بن الحسن: لو حمل رجل واحد على ألف رجل من المشركين وهو وحده، لم يكن بذلك بأس إذا كان يطمع في نجاة أو نكاية في العدو، فإن لم يكن كذلك فهو مكروه، لأنه عرض نفسه للتلف في غير منفعة للمسلمين. فإن كان قصده تجريه المسلمين عليهم حتى يصنعوا مثل صنيعه فلا يبعد جوازه، ولأن فيه منفعة للمسلمين على بعض الوجوه

Imam Muhammad bin Hasan al-Shaybani (guru Imam Syafii dan juga murid Imam Abu Hanifah) berkata: “Seandainya seorang lelaki seorang diri menyerang seribu orang musyrik, maka tidak mengapa melakukan hal itu apabila ia masih memiliki harapan untuk selamat atau dapat menimbulkan kerugian (serangan yang berarti) terhadap musuh. 
Namun jika tidak demikian, maka perbuatan itu makruh, karena ia telah mempertaruhkan dirinya pada kebinasaan tanpa memberikan manfaat bagi kaum Muslimin.

Akan tetapi, jika tujuannya adalah untuk membangkitkan keberanian kaum Muslimin agar mereka melakukan seperti apa yang ia lakukan, maka tidak jauh kemungkinan hal itu dibolehkan, karena di dalamnya terdapat manfaat bagi kaum Muslimin dari beberapa sisi.”

وإن كان قصده إرهاب العدو وليعلم صلابة المسلمين في الدين فلا يبعد جوازه. وإذا كان فيه نفع للمسلمين فتلفت نفسه لإعزاز دين الله وتوهين الكفر فهو المقام الشريف الذي مدح الله به المؤمنين في قوله:" إن الله اشترى من المؤمنين أنفسهم" «٧» [التوبة: ١١١] الآية، إلى غيرها من آيات المدح التي مدح الله بها من بذل نفسه. وعلى ذلك ينبغي أن يكون حكم الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر أنه متى رجا نفعا في الدين فبذل نفسه فيه حتى قتل كان في أعلى درجات الشهداء

Dan jika tujuannya adalah untuk menimbulkan rasa gentar pada musuh serta agar mereka mengetahui keteguhan kaum Muslimin dalam agama, maka tidak jauh kemungkinan hal itu juga diperbolehkan.

Apabila di dalamnya terdapat manfaat bagi kaum Muslimin, lalu ia mengorbankan dirinya demi memuliakan agama Allah swt dan melemahkan kekufuran, maka itulah kedudukan yang mulia yang dipuji oleh Allah swt bagi orang-orang beriman dalam firman-Nya: “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka…” (QS. At-Taubah: 111).

Ayat ini dan ayat-ayat pujian lainnya menunjukkan sanjungan Allah kepada orang yang mengorbankan dirinya (di jalan-Nya). Berdasarkan hal itu, semestinya hukum amar ma‘ruf nahi munkar juga demikian: kapan saja seseorang mengharapkan adanya manfaat bagi agama, lalu ia mengorbankan dirinya dalam upaya tersebut hingga ia terbunuh, maka ia berada pada derajat tertinggi para syuhada (orang-orang yang mati syahid).


دروس الشيخ محمد الحسن الددو الشنقيطي، الجزء ٢٦ الصحفة ٢٩

السؤال
ما حكم من نفذ عملية استشهادية فقتل فيها مجموعة من اليهود ؟

الجواب
إذا كان ذلك في فلسطين فهو من الجهاد في سبيل الله، وقد أوجب الله سبحانه وتعالى الجهاد في سبيله، وأوجب إرهاب العدو وإرعابهم، فقال تعالى: {وأعدوا لهم ما استطعتم من قوة ومن رباط الخيل ترهبون به عدو الله وعدوكم} [الأنفال:٦٠]، ولا يمكن اليوم جهاد اليهود بأي سلاح ولا بأي وسيلة لأفراد المسلمين إلا عن طريق هذه العمليات

Artinya : Pertanyaan:
Apa hukum orang yang melaksanakan operasi istisyhadiyah (bom bunuh diri) yang dengan aksinya tersebut dia bisa membunuh sekelompok orang Yahudi?

Jawaban:
Jika hal itu terjadi di Palestina, maka termasuk jihad di jalan Allah. Allah Subhanahu wa Ta‘ala telah mewajibkan jihad di jalan-Nya, serta mewajibkan menimbulkan rasa takut dan gentar kepada musuh. 
Allah Ta‘ala berfirman: “Dan persiapkanlah untuk menghadapi mereka apa saja kekuatan yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang, yang dengan persiapan itu kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu.” (QS. Al-Anfal: 60)

Dan pada masa sekarang tidak mungkin memerangi orang-orang Yahudi dengan senjata atau cara apa pun oleh individu kaum Muslimin kecuali melalui operasi-operasi semacam ini.

وهذا الجهاد في أهم جهاد اليوم وأعظمها، ولا يوجد غير هذه العمليات، وعلى الإنسان حينئذ أن يكون صادقا مخلصا، وألا ينوي بذلك إزهاق نفسه والخروج من هذه الحياة، بل ينوي بذلك جهاد العدو وإعلاء كلمة الله وإرهاب العدو بذلك، وأن يكون مخلصا لله صادقا، فإنما حرم الله قتل الإنسان نفسه إذا كان ذلك عدوانا وظلما، وهي علة منصوصة؛ فقد قال الله تعالى: {ولا تقتلوا أنفسكم إن الله كان بكم رحيما ومن يفعل ذلك عدوانا وظلما فسوف نصليه نارا وكان ذلك على الله يسيرا} [النساء:٢٩ - ٣٠]٠
وأما بالنسبة للبلاد الأخرى التي ليست مثل فلسطين، فلا ينبغي فيها الإقدام على مثل هذا ما دامت الوسائل الأخرى موجودة

Jihad semacam ini adalah salah satu bentuk jihad yang paling penting dan paling besar pada masa sekarang, karena tidak ada cara lain selain operasi semacam ini. Dalam kondisi ini, seorang Muslim harus bersikap :
 1) Ikhlas dan tulus. Hendaknya niatnya bukan untuk mengakhiri hidup sendiri atau keluar dari kehidupan, tetapi semata-mata untuk berjuang melawan musuh, menegakkan kalimat Allah, dan menimbulkan rasa gentar pada musuh.

2) Mengabdi kepada Allah dengan jujur, karena Allah swt melarang membunuh diri sendiri dengan cara yang zalim dan agresif. Allah Ta‘ala berfirman: “Dan janganlah kamu membunuh dirimu, sesungguhnya Allah Maha Penyayang kepadamu. Barangsiapa melakukan itu dengan cara yang zalim, maka Kami akan memasukkannya ke dalam api neraka, dan itu mudah bagi Allah.” (QS. An-Nisa: 29–30)

Adapun untuk negara-negara lain yang kondisinya tidak seperti Palestina, maka tidak dianjurkan melakukan tindakan semacam ini selama masih ada cara lain yang bisa ditempuh.

والشهادة إنما تكون بالنية، فإذا كان الإنسان صادقا مخلصا فهو شهيد عند الله سبحانه وتعالى، ونحن لا نستطيع الحكم بذلك، فإنما الشهيد من صدق، فقد صح عن رسول الله صلى الله عليه وسلم أنه سئل فقيل له: (الرجل يقاتل حمية، ويقاتل شجاعة، ويقاتل ليرى مكانه، فأي ذلك في سبيل الله؟ فقال: من قاتل لتكون كلمة الله هي العليا فهو في سبيل الله). وقد صح عنه صلى الله عليه وسلم في عدد من الأحاديث أنه قال: (والله أعلم بمن يقتل في سبيله)

Derajat mati Syahid itu ditentukan oleh niat yang ikhlas. Jika seorang tulus dan ikhlas, maka dia dianggap sebagai syahid di sisi Allah Subhanahu wa Ta‘ala. Kita sendiri tidak dapat menilai hal itu secara pasti, hanya Allah taala yang mengetahuinya. Maka dalam riwayat yang shohih dari Rasulullah ﷺ beliau ditanya: “Jika ada seorang lelaki yang berperang karena semangat kepahlawanan, atau karena keberanian, atau untuk menunjukkan posisinya, maka manakah yang termasuk berperang di jalan Allah?”
Beliau menjawab: “Barangsiapa yang berperang agar kalimat Allah menjadi yang tertinggi, maka ia berperang di jalan Allah.”

Dalam beberapa hadits juga ditegaskan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Dan Allah-lah yang paling mengetahui siapa yang terbunuh di jalan-Nya.”

Jadi, status syahid seseorang tergantung pada niat dan keikhlasan dia yang hanya Allah swt saja yang mengetahuinya.


الأدلة الشرعية في جواز العمليات الاستشهادية، الجزء ١ الصحفة ٩٧

 في حكم العمليات الاستشهادية لقد اختلف أهل العلم المعاصرون في حكم العمليات الاستشهادية؛ فحرمها بعضهم، وعدَّها انتحاراً وقتلاً للنفس؛ واستدلوا بقوله تعالى: {وَلاَ تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا} [النساء:29] [1]. وذهب آخرون إلى أنه عمل مشروع، ومن الجهاد في سبيل الله، وصاحبه يُرجى أن يكون شهيدًا؛ واحتجوا بأدلة كثيرة 

Artinya : Mengenai hukum operasi istisyhadiyah (bom bunuh diri), maka para ulama kontemporer berbeda pendapat :
1) Sebagian ulama mengharamkannya, karena dianggap bunuh diri dan pembunuhan diri sendiri. Mereka berargumen berdasarkan firman Allah Ta‘ala: “Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah Maha Penyayang kepadamu.” (QS. An-Nisa: 29)

2) Sebagian ulama lain berpendapat bahwa tindakan ini sah dan termasuk jihad di jalan Allah, serta orang yang melakukannya diharapkan menjadi syahid. Mereka mengemukakan banyak dalil yang mendukung hal ini, baik dari Al-Qur’an maupun hadits.

Jadi, hukum operasi semacam ini dalam pandangan ulama kontemporer tidak seragam, tergantung pada niat, konteks, dan manfaat yang diharapkan bagi kaum Muslimin.

والله أعلم بالصواب

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Nama : Faishol Umar Rozi
Alamat : Proppo, Pamekasan, Madura
__________________________________

MUSYAWWIRIN

Anggota Grup BM Nusantara (Tanya Jawab Hukum Online)

PENASIHAT

Habib Ahmad Zaki Al-Hamid (Kota Sumenep, Madura)

PENGURUS

Ketua: Ustadz Zainullah Al-Faqih (Umbul Sari, Jember, Jawa Timur)
Wakil: Ustadz Taufik Hidayat (Pegantenan, Pamekasan, Madura)
Sekretaris: Ustadz Moh. Kholil Abdul Karim (Karas, Magetan, Jawa Timur)
Bendahara: Ustadz Supandi (Pegantenan, Pamekasan, Madura)

TIM AHLI

Kordinator Soal: Ustadz Qomaruddin (Umbul Sari, Jember, Jawa Timur), Ustadz Faisol Umar Rozi (Proppo, Pamekasan, Madura) 
Deskripsi Masalah: Ustadz Faisol Umar Rozi (Proppo, Pamekasan, Madura)
Moderator: Ustadz Hosiyanto Ilyas (Jrengik, Sampang, Madura)
Perumus: Ustadz Ubaidillah (Sumber Baru, Jamber, Jawa Timur)
Muharrir: Kyai Mahmulul Huda (Bangsal Sari, Jember, Jawa Timur), K.H. Abdurrohim (Maospati, Magetan, Jawa Timur)
Editor: Ustadz Taufik Hidayat (Pegantenan, Pamekasan, Madura)
Terjemah Ibarot : Ustadz Rahmatullah Metuwah (Babul Rahmah, Aceh Tenggara, Aceh), Ustadz Ahmad Marzuki (Cikole, Sukabumi, Jawa Barat), Kyai Muntahal 'Ala Hasbullah (Giligenting, Sumenep, Madura), Gus Robbit Subhan (Balung, Jember, Jawa Timur), Ustadz Ahmad Alfadani (Balongbendo, Sidoarjo, Jawa Timur), Ustadz Abdurrozaq (Wonokerto, Pekalongan, Jawa Tengah), Ustadzah Lusy Windari (Jatilawang, Banyumas, Jawa Tengah)
Mushohhih terjemahan : K.H. Abdurrohim (Maospati, Magetan, Jawa Timur)

________________________________________

Keterangan:

1) Pengurus adalah orang yang bertanggung jawab atas grup ini secara umum.

2) Tim ahli adalah orang yang bertugas atas berjalannya grup ini.

3) Bagi para anggota grup yang memiliki pertanyaan diharuskan untuk menyetorkan soal kepada koordinator soal dengan via japri, yakni tidak diperkenankan -sharing- soal di grup secara langsung.

4) Setiap anggota grup boleh usul atau menjawab walaupun tidak berreferensi. Namun, keputusan tetap berdasarkan jawaban yang berreferensi.

5) Dilarang -posting- iklan/video/kalam-kalam hikmah/gambar yang tidak berkaitan dengan pertanyaan, sebab akan mengganggu berjalannya diskusi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Profil Group BM Nusantara (Tanya Jawab Hukum Online)

Hukum Menjilat Farji Istri atau Memasukkan Dzakar ke Dalam Mulut Istri

Hukum Puasa Ramadhan dan Syawal Tidak Ikut Itsbat (Penetapan) Dari Pemerintah