Sholat Tajjaud dan Hajat dalam Rangka (Nirakati-Red Jawa) Anak

HASIL KAJIAN BM NUSANTARA
(Tanya Jawab Hukum Online)

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

DESKRIPSI

Badrun (nama samaran) setiap malam Sholat tahajjud dan sholat hajat. Hal ini dia lakukan untuk nirakati (red-jawa) anak putunya agar supaya menjadi anak-anak yang sholihin. 

PERTANYAAN :

Apakah yang dilakukan Badrun tersebut termasuk perbuatan riya' bahkan tersebut perbuatan syirik ? 

JAWABAN :

Apa yang dilakukan Badrun sebagaimana deskripsi tidak termasuk riya, tetap berpahala dan bahkan dianjurkan.

REFERENSI:

حاشية البجيرمي على الخطيب ، الجزء ١ الصحفة ١٨

 [مَبْحَثُ دَرَجَاتِ الْإِخْلَاصِ]
ِ قَالَ شَيْخُ الْإِسْلَامِ: دَرَجَاتُ الْإِخْلَاصِ ثَلَاثٌ: عُلْيَا وَوُسْطَى وَدُنْيَا، فَالْعُلْيَا أَنْ يَعْمَلَ الْعَبْدُ لِلَّهِ وَحْدَهُ امْتِثَالًا لِأَمْرِهِ وَقِيَامًا بِحَقِّ عُبُودِيَّتِهِ لَا طَمَعًا فِي جَنَّتِهِ وَلَا خَوْفًا مِنْ نَارِهِ، وَمِنْ ثَمَّ قَالَتْ رَابِعَةُ الْعَدَوِيَّةُ: مَا عَبَدْتُك طَمَعًا فِي جَنَّتِك وَلَا خَوْفًا مِنْ نَارِك إنَّمَا عَبَدْتُك امْتِثَالًا لِأَمْرِك، وَالْوُسْطَى أَنْ يَعْمَلَ الْعَبْدُ لِثَوَابِ الْآخِرَةِ، وَمِنْ هَذَا قَوْلُ الْمُؤَلِّفِ كَغَيْرِهِ رَاجِيًا بِذَلِكَ جَزِيلَ الْأَجْرِ إلَخْ٠ 

Artinya : Pembahasan tentang Tingkatan Ikhlas

Syekh Islam (Syekh Zakaria Al Anshori) berkata: “Tingkatan ikhlas itu ada tiga : tingkatan tertinggi, pertengahan, dan terendah.

Tingkatan tertinggi adalah : ketika seorang hamba beramal hanya untuk Allah semata, sebagai bentuk menjalankan perintah-Nya dan menunaikan hak penghambaan kepada-Nya, bukan karena mengharap surga-Nya dan bukan pula karena takut terhadap neraka-Nya. Karena itulah, Rabi‘ah Al-‘Adawiyah berkata: “Aku tidak menyembah-Mu karena mengharap surga-Mu dan tidak pula karena takut terhadap neraka-Mu, tetapi aku menyembah-Mu semata-mata karena menjalankan perintah-Mu.”

Tingkatan pertengahan adalah : ketika seorang hamba beramal karena mengharapkan pahala di akhirat. Termasuk dalam hal ini adalah ucapan penulis (sebagaimana juga yang lain) yang mengatakan: “Dengan mengharap pahala yang besar.” dan seterusnya.

وَالدُّنْيَا أَنْ يَعْمَلَ الْعَبْدُ لِلْإِكْرَامِ مِنْ اللَّهِ فِي الدُّنْيَا وَالسَّلَامَةِ مِنْ آفَاتِهَا، وَمَا عَدَا هَذِهِ الثَّلَاثَةَ رِيَاءٌ وَإِنْ تَفَاوَتَتْ أَفْرَادُهُ. وَقَالَ الْغَزَالِيُّ: إذَا كَانَ هُنَاكَ قَصْدٌ دُنْيَوِيٌّ وَقَصْدٌ أُخْرَوِيٌّ كَمَنْ سَافَرَ لِلْحَجِّ وَالتِّجَارَةِ، أَوْ لِلْجِهَادِ وَالْغَنِيمَةِ، أَوْ لِلْهِجْرَةِ وَالزَّوَاجِ، فَإِنْ كَانَ الْقَصْدُ الدُّنْيَوِيُّ هُوَ الْأَغْلَبُ لَمْ يَكُنْ فِيهِ أَجْرٌ، وَإِنْ كَانَ الْقَصْدُ الدِّينِيُّ هُوَ الْأَغْلَبُ أُجِرَ بِقَدْرِهِ، وَإِنْ تَسَاوَيَا فَلَا أَجْرَ

Tingkatan terendah adalah : ketika seorang hamba beramal demi memperoleh karunia dari Allah swt di dunia dan keselamatan dari berbagai bencana dunia. Selain tiga tingkatan ini, maka termasuk riya’, meskipun bentuk-bentuknya berbeda-beda tingkatannya. 

Imam Ghazali berkata : Apabila terdapat dua tujuan sekaligus, yaitu tujuan duniawi dan tujuan ukhrawi, seperti : seseorang yang bepergian untuk haji sekaligus berdagang, atau untuk jihad sekaligus mendapatkan harta rampasan perang, atau untuk hijrah sekaligus menikah—maka di tafsil :

a) Jika tujuan duniawi lebih dominan, maka tidak ada pahala baginya.
b) Jika tujuan agama (akherat) lebih dominan, maka ia masih mendapatkan pahala sesuai kadar niat tersebut.
c) Jika keduanya sama kuat, maka tidak ada pahala baginya.


القليوبي، الجزء ١ الصحفة ٤٧

كل عبادة وقع فيها تشريك فإن فاعلها يثاب عليها إن غلب الأخروي كما لو انفرد قاله الغزالي وقال ابن عبد السلام لا ثواب له مطلقا والمنقول الأول

Artinya : Setiap ibadah yang di dalamnya terdapat penyertaan niat lain (yakni selain mencari ridho Alloh ), maka pelakunya tetap memperoleh pahala jika tujuan akhirat lebih dominan, sebagaimana halnya ketika niat tersebut dilakukan secara murni. Pendapat ini dikemukakan oleh Al-Ghazali.

Sedangkan Ibnu ‘Abdussalam berpendapat bahwa tidak ada pahala baginya sama sekali secara mutlak. Namun pendapat yang di rfiwayatkan (dalam madzhab Imam Syafii) adalah : pendapat yang pertama.


فتاوى لابن حجر، الجزء ٢ الصحفة ٩٦-٩٧

وسئل ( نفع الله به ) : أجير الحج والزيارة هل له أجر فيهما كغير الأجير فأجاب بقوله من استؤجر للحج أو غيره فإن كان الباعث له على نحو الحج الأجرة ولولاها لم يحج لم يكن له ثواب ، وإلا فله الثواب بقدر باعث الآخرة

Artinya : Beliau (Syekh Ibnu Hajar) pernah ditanya (semoga Allah memberikan manfaat melalui beliau) tentang orang yang disewa untuk melaksanakan badal haji atau umroh, maka apakah ia masih mendapatkan pahala dalam keduanya sebagaimana orang yang tidak disewa.

Maka beliau menjawab: “Barang siapa disewa untuk melaksanakan badal haji atau ibadah lainnya, maka jika yang mendorong dia untuk melakukan haji tersebut adalah upah, dan seandainya tidak ada upah, maka ia tidak akan berhaji, maka ia tidak mendapatkan pahala.

Namun jika tidak demikian, maka ia tetap memperoleh pahala sesuai dengan kadar niat yang mendorongnya mendapatkan pahala akherat.”


المتجر الرابح في ثواب العمل الصالح للحافظ أبي محمد شرف الدين عبد المؤمن خلف الدمياطي ٦١٣-٧٠٥ هـ

٤٠٩- وخرج الترمذي وابن ماجه والحاكم بأسانيدهم عن عبد الله بن أبي أوفى رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلي الله عليه وسلم : " من كانت له إلى اللّه حاجة أو إلى أحد من بني آدم فليتوضأ وليحسن الوضوء ، وليصل ركعتين ، ثم ليثن (2) على اللّه ، وليصل على النبى صلي الله عليه وسلم ، ثم ليقل : لا إله إلا الله الحليم الكريم ، سبحان الله رب العرش العظيم ، الحمد لله رب العالمين ، أسألك موجبات رحمتك وعزائم مغفرتك ، والغنيمة من كل بر ، والسلامة من كل إثم ، لا تدع لي ذنبا إلا غفرته ، ولا هما إلا فرجته ، ولا حاجة هي لك رضا إلا قضيتها يا أرحم الراحمين " زاد ابن ماجه : " ثم يسأل من أمر الدنيا والآخرة ما يشاء فإنه يقدر"

Artinya : Hadits tentang doa ketika memiliki hajat

Telah diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Hakim dengan sanad mereka dari ‘Abdullah bin Abu Aufa radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Barang siapa memiliki hajat kepada Allah swt atau kepada salah seorang dari anak-anak Adam, hendaklah ia berwudhu dengan sempurna, lalu shalat dua rakaat, kemudian memuji Allah, bershalawat kepada Nabi ﷺ, lalu berkata: "Barang siapa memiliki hajat kepada Allah atau kepada salah seorang dari anak-anak Adam, hendaklah ia berwudhu dengan baik, lalu shalat dua rakaat, kemudian memuji Allah, bersholawat kepada Nabi ﷺ, lalu memanjatkan doa ini : Tidak ada Tuhan selain Allah Yang Maha Penyantun lagi Maha Mulia, Mahasuci Allah Tuhan ‘Arsy yang Agung, segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. Aku memohon kepada-Mu akan sebab-sebab turunnya rahmat-Mu dan ketetapan ampunan-Mu, keberuntungan dari segala kebaikan, dan keselamatan dari setiap dosa. Ku mohon janganlah Engkau tinggalkan dosa bagiku kecuali Engkau ampuni, janganlah Engkau tinggalkan kesusahan kecuali Engkau hilangkan, dan janganlah Engkau tinggalkan hajat yang Engkau ridhoi kecuali Engkau penuhi, wahai Yang Paling Penyayang di antara yang penyayang.

Ibnu Majah menambahkan: “Kemudian ia boleh meminta urusan dunia dan akhirat apa saja yang ia kehendaki, sesuai kemampuan.”


والله أعلم بالصواب

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

PENANYA

Nama : Taufik Hidayat
Alamat : Pegantenan, Pamekasan, Madura
__________________________________

MUSYAWWIRIN

Anggota Grup BM Nusantara (Tanya Jawab Hukum Online)

PENASIHAT

Habib Ahmad Zaki Al-Hamid (Kota Sumenep, Madura)

PENGURUS

Ketua: Ustadz Zainullah Al-Faqih (Umbul Sari, Jember, Jawa Timur)
Wakil: Ustadz Taufik Hidayat (Pegantenan, Pamekasan, Madura)
Sekretaris: Ustadz Moh. Kholil Abdul Karim (Karas, Magetan, Jawa Timur)
Bendahara: Ustadz Supandi (Pegantenan, Pamekasan, Madura)

TIM AHLI

Kordinator Soal: Ustadz Qomaruddin (Umbul Sari, Jember, Jawa Timur), Ustadz Faisol Umar Rozi (Proppo, Pamekasan, Madura) 
Deskripsi Masalah: Ustadz Faisol Umar Rozi (Proppo, Pamekasan, Madura)
Moderator: Ustadz Hosiyanto Ilyas (Jrengik, Sampang, Madura)
Perumus: Ustadz Taufik Hidayat (Pegantenan, Pamekasan, Madura)
Muharrir: Kyai Mahmulul Huda (Bangsal Sari, Jember, Jawa Timur), K.H. Abdurrohim (Maospati, Magetan, Jawa Timur)
Editor: Ustadz Taufik Hidayat (Pegantenan, Pamekasan, Madura)
Terjemah Ibarot : Ustadz Rahmatullah Metuwah (Babul Rahmah, Aceh Tenggara, Aceh), Ustadz Ahmad Marzuki (Cikole, Sukabumi, Jawa Barat), Kyai Muntahal 'Ala Hasbullah (Giligenting, Sumenep, Madura), Gus Robbit Subhan (Balung, Jember, Jawa Timur), Ustadz Ahmad Alfadani (Balongbendo, Sidoarjo, Jawa Timur), Ustadz Abdurrozaq (Wonokerto, Pekalongan, Jawa Tengah), Ustadzah Lusy Windari (Jatilawang, Banyumas, Jawa Tengah)
Mushohhih terjemahan : K.H. Abdurrohim (Maospati, Magetan, Jawa Timur)

________________________________________

Keterangan:

1) Pengurus adalah orang yang bertanggung jawab atas grup ini secara umum.

2) Tim ahli adalah orang yang bertugas atas berjalannya grup ini.

3) Bagi para anggota grup yang memiliki pertanyaan diharuskan untuk menyetorkan soal kepada koordinator soal dengan via japri, yakni tidak diperkenankan -sharing- soal di grup secara langsung.

4) Setiap anggota grup boleh usul atau menjawab walaupun tidak berreferensi. Namun, keputusan tetap berdasarkan jawaban yang berreferensi.

5) Dilarang -posting- iklan/video/kalam-kalam hikmah/gambar yang tidak berkaitan dengan pertanyaan, sebab akan mengganggu berjalannya diskusi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Profil Group BM Nusantara (Tanya Jawab Hukum Online)

Hukum Menjilat Farji Istri atau Memasukkan Dzakar ke Dalam Mulut Istri

Hukum Puasa Ramadhan dan Syawal Tidak Ikut Itsbat (Penetapan) Dari Pemerintah