Hukum Makan Sate Keong (Tutut)
HASIL KAJIAN BM NUSANTARA
(Tanya Jawab Hukum Online)
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
DESKRIPSI:
Badrun (nama samaran) merupakan pelajar kelas 3 SMP di Kabupaten Lumajang. Saat Jam istirahat Dia bersama teman-temannya ke salah satu warung yang ada disekitar Sekolah tersebut. Ketika Dia mau membeli Sate Keong (Tutut-Red Jawa), Badrun dilarang oleh teman-temannya karena Keong tersebut hukumnya haram apabila dimakan.
PERTANYAAN :
Bagaimana hukum memakan sate keong?
JAWABAN :
Hukum memakan Tutut atau Keong adalah ;
a) Boleh (halal) menurut pendapat di dalam kitab Majmu', Ibnu ‘Adlan dan para ulama pada masanya, Ad-Damiri, Syihab Ar- Ramli Muhammad Ar-Ramli, serta Al-Khatib dalam Al-Mughni.
b) Tidak boleh (haram) menurut pendapat Ibnu Abdissalam, Al-Zarkasyi, Ibnu Hajar dalam kitab Al-fatawa Al-Kubro dan Tuhfah.
NB : Adapun yang lebih utama adalah meninggalkan (tidak memakannya) demi kehati-hatian (ihtiyath).
REFERENSI :
الصواعق المحرقة للأوهام الكاذبة في بيان حل البلوت والرد على من حرمه، الصحفة ١٣
٠(وأما الخاتمة) ففي أمور مهمة منها أنه لما ذكر المحرم للبلوت في آخر كلامه استطرادا تحريم الكيوغ (۱) والتوتوت والرميس (لتوهمه) أنها مثل البلوت من الحيوانات التي تعيش في البر والبحر دائما من غير نقل من كلام الفقهاء وهذه الثلاثة أيضا مما يكثر السؤال عنها ايضا فلابد لنا من نقل كلام الفقهاء الذى يدل على حل هذه الثلاثة بعمومه أو بخصوصه
Artinya : Adapun penutup, maka di dalamnya terdapat beberapa perkara penting : Di antaranya, ketika ulama yang mengharamkan belut itu pada akhir pembicaraannya secara sambil lalu menyebutkan pula keharaman keong, tutut, dan remis (sekelompok kerang-kerangan kecil yang hidup di dasar perairan) karena ia menyangka bahwa ketiganya seperti belut, yakni termasuk hewan yang hidup di darat dan di laut secara terus-menerus tanpa menukil pendapat para fuqaha. Padahal ketiga jenis ini juga sering ditanyakan hukumnya. Oleh karena itu, perlu bagi kita untuk menukil perkataan para fuqaha yang menunjukkan kehalalan ketiganya, baik secara umum maupun khusus.
الصواعق المحرقة للأوهام الكاذبة في بيان حل البلوت والرد على من حرمه، الصحفة ١٤-١٥
قال في النهاية وأما الدنيلس فالمعتمد حله كما جرى عليه الدميرى وافتی به ابن عدلان وائمة عصره وأفتى به الوالد رحمه الله تعالى وقال في المغنى لما نقل إفتاء ابن عدلان بحله وهذا هو الظاهر وهذه نصوص الفقهاء في أنواع الصدف الداخل فيها الرميس والتوتوت والكيوع فعلى كلام المجموع وابن عدلان وأئمة عصره والدميرى والشهاب الرملى ومحمد رملي والخطيب في المغنى فالرميس والتوتوت والكيوغ حلال لأنها مثل الدنياس الذي اتفقوا على حله وداخل في أنواع الصدف الذي ظاهر كلام المجموع على حله وعلى كلام ابن عبد السلام والزركشي و ابن حجر في الفتاوى الكبرى والتحفة فالمذكورات حرام فيجوز للناس أكلها تقليدا للذين قالوا بحله و الأولى تركه احتياطا وأما الإفتاء بتحريمها من غير نقل من كلامهم فلا يجوز لمن لم يبلغ رتبة الإفتاء كامثالنا والله أعلم
Artinya : Dalam kitab Nihayatul Muhtaj Syekh Romli menyebutkan bahwa pendapat yang mu‘tamad mengenai duniylās adalah halal hukumnya, sebagaimana dipegang oleh ad-Damiri, dan difatwakan oleh Ibnu ‘Adlan dan para imam sezamannya, dan juga difatwakan oleh ayah saya (Syekh Syihab Ar Romli). Dan dalam kitab Mughni, setelah Syekh Khotib menukil fatwa Ibnu ‘Adlan tentang kehalalannya, maka beliau menyatakan : “Inilah adalah pendapat yang tampak kuat.” Inilah nash-nash para fuqaha tentang jenis-jenis kerang, yang di dalamnya termasuk remis, tutut, dan keong.
Maka berdasarkan pendapat dalam kitab al-Majmu‘, serta pendapat Ibnu ‘Adlan dan para imam sezamannya, Ad-Damiri, Syihab Ar-Romli, Muhammad Ramli, serta Al-Khatib dalam Al-Mughni, maka remis, tutut, dan keong hukumnya adalah halal, karena dianggap seperti dunylās yang telah mereka sepakati kehalalannya dan termasuk dalam jenis-jenis kerang (ṣadaf) yang secara zahir dalam Al-Majmū’ dinyatakan halal.
Namun menurut pendapat Syekh Ibnu ‘Abdissalam, Az-Zarkasyi, serta Ibnu Hajar dalam Al-Fatawa Al-Kubra dan At-Tuhfah, maka semua hewan yang disebutkan di atas tadi hukumnya adalah haram. Dengan demikian, masyarakat boleh mengonsumsinya dengan mengikuti (taqlid kepada) pendapat yang menyatakan halal. Akan tetapi, yang lebih utama adalah meninggalkannya sebagai bentuk kehati-hatian. Adapun berfatwa mengharamkan nya, tanpa mengutip pernyataan para ulama di atas mk itu tidak diperbolehkan bagi seorang yang belum sampai derajat mufti seperti kita. Wallohu a'lam
والله أعلم بالصواب
و السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
PENANYA
Nama : Moh. Hidayatullah
Alamat : Kedungjajang Lumajang
__________________________________
MUSYAWWIRIN
Anggota Grup BM Nusantara (Tanya Jawab Hukum Online)
PENASIHAT
Habib Ahmad Zaki Al-Hamid (Kota Sumenep, Madura)
PENGURUS
Ketua: Ustadz Zainullah Al-Faqih (Umbul Sari, Jember, Jawa Timur)
Wakil: Ustadz Taufik Hidayat (Pegantenan, Pamekasan, Madura)
Sekretaris: Ustadz Moh. Kholil Abdul Karim (Karas, Magetan, Jawa Timur)
Bendahara: Ustadz Supandi (Pegantenan, Pamekasan, Madura)
TIM AHLI
Kordinator Soal: Ustadz Qomaruddin (Umbul Sari, Jember, Jawa Timur), Ustadz Faisol Umar Rozi (Proppo, Pamekasan, Madura)
Deskripsi Masalah: Ustadz Faisol Umar Rozi (Proppo, Pamekasan, Madura)
Moderator: Ustadz Hosiyanto Ilyas (Jrengik, Sampang, Madura)
Perumus: Ustadz Taufik Hidayat (Pegantenan, Pamekasan, Madura)
Muharrir: Kyai Mahmulul Huda (Bangsal Sari, Jember, Jawa Timur), K.H. Abdurrohim (Maospati, Magetan, Jawa Timur)
Editor: Ustadz Taufik Hidayat (Pegantenan, Pamekasan, Madura)
Terjemah Ibarot : Ustadz Rahmatullah Metuwah (Babul Rahmah, Aceh Tenggara, Aceh), Ustadz Ahmad Marzuki (Cikole, Sukabumi, Jawa Barat), Kyai Muntahal 'Ala Hasbullah (Giligenting, Sumenep, Madura), Gus Robbit Subhan (Balung, Jember, Jawa Timur), Ustadz Ahmad Alfadani (Balongbendo, Sidoarjo, Jawa Timur), Ustadz Abdurrozaq (Wonokerto, Pekalongan, Jawa Tengah), Ustadzah Lusy Windari (Jatilawang, Banyumas, Jawa Tengah)
Mushohhih terjemahan : K.H. Abdurrohim (Maospati, Magetan, Jawa Timur)
________________________________________
Keterangan:
1) Pengurus adalah orang yang bertanggung jawab atas grup ini secara umum.
2) Tim ahli adalah orang yang bertugas atas berjalannya grup ini.
3) Bagi para anggota grup yang memiliki pertanyaan diharuskan untuk menyetorkan soal kepada koordinator soal dengan via japri, yakni tidak diperkenankan -sharing- soal di grup secara langsung.
4) Setiap anggota grup boleh usul atau menjawab walaupun tidak berreferensi. Namun, keputusan tetap berdasarkan jawaban yang berreferensi.
5) Dilarang -posting- iklan/video/kalam-kalam hikmah/gambar yang tidak berkaitan dengan pertanyaan, sebab akan mengganggu berjalannya diskusi.
dari kitab Al-Madzahibul Arba’ah Juz II Halaman 3 :
BalasHapusفلا يجوز اكل الحشرات الضارة… اما إذا اعتاد قوم اكلها ولم تضرهم وقبلتها انفسهم, فالمشهور عندهم انها لاتحرم ( المذاهب الاربعة, الجزء ٢ ص ٣ )
Boleh I'tirod nggeh?
BalasHapus